Posted by: todung | 1 March 2008

Gereja HKBP Hutanamora Butar

Gereja Lama (1900-2000) ditulis menjelang Jubileum 100 tahun, Juni 2000

Gereja HKBP Hutanamora Butar berdiri pada tahun 1900 di atas tanah seluas kl. 60 ha yang dihibahkan oleh keturunan Ompu Mambirjalang salah satu tingkat keturunan dari Toga Hariara anak dari Borsak Sirumonggur Sihombing Lumbantoruan yang berdomisili di lingkungan Hutanamora, Desa Banualuhu, Kecamatan Pagaran, Butar Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara sebuah desa kl 254 km dari kota Medan.
Gereja dengan ukuran kl. 25 x 15 meter persegi dibangun oleh warga jemaat yang berada di sekitar lokasi yang pada umumnya bermarga Lumbantoruan, Hutasoit, Nababan, Silaban, Pasaribu, Siregar dan Lubis. Keanggunan gereja ini di lihat dari luar karena wibawa menara gereja yang sengaja didesain demikian tinggi, kl. 25 meter, sama tingginya dengan panjang gereja. Sedikit di bawah salib terlihat dengan nyata jam yang sangat besar buatan pabrik jam Junghun Jerman tahun 1886, yang dapat dilihat dengan jelas oleh jemaat dari kejauhan berjarak 500 hingga 1 kilometer.

Sangat berwibawa bila kita sudah masuk di dalam gereja. Kita melewati barisan bangku gereja yang diatur empat baris. Kita lihat ke depan, betapa anggunnya fodium kecil di lantai dasar altar dan fodium berkhotbah di bagian atas yang dapat dilihat oleh semua jemaat yang beribadah. Masih di lantai altar terlihat organ pegas goyang kaki yang sangat antik buatan Jerman yang kondisinya sekitar 30 % baik dengan jumlah nada empat oktaf.

Kita kembali melihat ke sebelah atas, lantai 2, tertulis ayat Alkitab pilihan pada lis yang membatasi lantai 1 dan lantai 2 di bawah terali yang menjadi pagar sekeliling lantai dua, seperti ayat Yohanes 3;16: “AI SONGON ON DO HOLONG NI ROHA NI DEBATA DI PORTIBION, POLA DO ANAKNA NASASADAI DILEHON ASA UNANG MAGO GANUP NAPORSEA DI IBANA, ASA HANGOLUAN NA SALELELNGNA DI IBANA” dan ayat lainnya.

Satu lagi yang sangat menawan dalam pendengaran kita bahwa ternyata lonceng gereja terdiri dari 2 buah buatan Jerman tahun 1896, yang pertama memiliki nada A dan C (lebih tinggi). Kedua lonceng gereja diletakkan di tengah menara gereja sejajar dengan jam, karena lonceng gereja bernada C yang diketuk dengan nyaring oleh palu jam setiap setengah jam. Ketukan pertama pada satu jam penuh, dia dipalu otomatis sesuai sinyal waktu yaitu dari pukul 1 hingga 12 (1 hingga 12 ketuk), dan setiap setengah jam lagi dipalu hanya sekali. Suara lonceng terdengar hingga 7 kilometer pada siang hari dan kl. 10 kilometer pada malam hari. Lonceng gereja dipalu setiap pukul 18.00 setiap hari, dan setiap hari Minggu dan hari besar gereja pada pukul 06.00 dan pukul 08.00 sebagai tanda persiapan/peringatan ibadah jemaat, pukul 09.00 sebagai tanda panggilan ibadah dan pukul 10.00 sebagai tanda ibadah dimulai.

Kita amati lebih jauh, bahwa atap gereja terbuat dari “le”, sangat kuat bertahan seusia gereja; semua tiang gereja terbuat dari kayu hutan, hampir menyerupai kayu besi (tidak jelas dari hutan mana) ukuran paling besar 40×40 cm tinggi kl 25 meter berjejer 6 buah di sebelah kiri dan 6 buah lagi di sebelah kanan di dalam gereja, ukuran sedang 20×20 cm tinggi 10 meter berjejer di sebelah kiri 8 buah, di sebelah kanan 8 buah dan di depan dan belakang masing-masing 2 buah pada dingding gereja. Plafon aslinya terdiri dari papan berukuran 30cm x 6 meter tebal 5 cm, namun kemudian diganti menjadi bahan eternit.

Hampir semua tiang bewarna coklat kehitam-hitaman dan dinding bewarna jati muda dan plafon kayu juga bewarna jati muda sedang plafon eternit bewarna putih. Kaca menyinari altar depan dan bagian belakang bewarna kuning, merah, hijau dan jendela sekeliling bewarna bening. Kita kembali memandang dari luar, Salib ala Itali di atas menara bewarna hitam; menara kerucut di bawahnya bewarna merah tua, menara empat segi tempat jam bewarna kuning susu, jam sendiri bewarna putih dengan petunjuk jam dan menit bewarna hitam; atap di bawahnya bewarna hitam; luas dinding sekeliling aslinya bewarna putih dengan lis bewarna hijau dan hitam, sekarang bewarna kuning susu dengan lis coklat dan hitam.

Kita berada di gerbang masuk gereja, betapa indahnya gereja ini dilatarbelakangi oleh pohon pinus yang sudah tinggi berdiri di sekeliling pinggir lahan gereja. Dikombinasikan lagi dengan daun tebu hijau keputih-putihan yang menjadi tanaman produksi dari Keluarga Pendeta, Voorganger, Evangelis, Guru Kepala SD, Guru Agama SD yang menghuni bangunan- bangunan yang berdiri di kompleks gereja. Pada siang hari itu kita mendengar nyanyian anak-anak SD di kompleks gereja bersahut-sahutan nyaring pertanda mereka sudak akan pulang sekolah. Setiap kelompok berhenti bernyanyi, mereka sedang berdoa, tiba-tiba kita dengan seorang anak berteriak: “ceap, ceap, podo bo goro, hormoot grok” (dimaksudkan: semua siap, kepada ibu guru, hormat, grak)


Responses

  1. kampung gw

    • Aha do margam amang Tomy? Au sian Sirpang Tolu didia ma hutanta, horas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: