Posted by: todung | 17 March 2008

MEMILIH EPHORUS DENGAN SISTEM “MANJOMPUT NASINURAT”

Jauh hari sebelum pemilihan Ephorus HKBP pada akhir bulan 2008 tahun yang akan datang sudah mulai ada tanda-tanda keanehan terjadi di kalangan masyarakat HKBP. Kiriman sms ke berbagai anggota jemaat sudah diterima. Yang masuk ke hp saya berbunyi: “Hati-hati, ada upaya mencemarkan nama baik ……” satu lagi masih dengan sms dengan kalimat yang hampir sama namun nama pendeta yang berbeda, rupanya, keduanya calon-calon kuat pimpinan HKBP yang akan datang.

Akhir-akhir ini kita mendengar secara luas pemberitaan di media cetak yang terbit lokal di Sumut mau pun nasional yang menurut saya lebih cenderung menonjolkan adanya kepentingan dan terkait suksesi kepemimpinan HKBP 2008. Kebebasan memilih bagi para calon sinodisten sudah mulai akan terpasung apabila ada kepentingan dan suksesi pribadi dalam tubuh HKBP.

Dan kemungkinan peristiwa pemilihan yang lalu-lalu akan terulang lalu membawa cemar nama HKBP di mata dunia dan di hadapan Tuhan pada waktu yang akan datang. Inilah yang saya takutkan, dan untuk itu jauh-jauh hari pula harus kita cari jalan keluarnya. Sebagai anggota HKBP kita mendoakan jangan lagi terulang praktek-praktek suksesi pribadi seperti cara-cara lalu, seolah-olah Tuhan tidak berdaya dan tidak diberi kesempatan campur tangan demi cara-cara itu. Bukan hanya HKBP, banyak gereja lain melakukan cara-cara yang menyepelekan Tuhan dan lebih mengandalkan cara manusia dalam pemilihan pimpinan gereja, akhirnya terjadilah mala petaka, sudah tentu berkat Tuhan pun akan menjauh setelah kepemimpinan terpilih dengan cara itu.

Metode yang paling cocok untuk mengatasi itu ialah metode “manjomput nasinurat/ ,” cara yang dipakai oleh beberapa gereja berdasarkan cara yang dipakai dalam Alkitab. Pada tingkat pendahuluan dipilih bakal calon. Misalkan setiap distrik HKBP mencalonkan seorang bakal calon sehingga terpilih maksimal sebanyak 26 orang (1 orang/distrik). Disebut maksimal, karena mungkin saja distrik memilih nama lain di luar anggota sinode distrik yang juga dipilih oleh distrik lain.

Hingga disini masih ada kemungkinan terdapat rekayasa bila ada persekongkolan beberapa praeses sebagai pimpinan distrik memaksakan kepada sinode distriknya untuk memilih nama bakal calon tertentu dan pada akhirnya bisa terjadi bakal calon tunggal apabila semua praeses berhasil menggolkan nama yang sama. Namun, bakal calon tunggal pun merupakan hal yang tidak mungkin mengingat berbagai latar belakang permasalahan yang terjadi di tubuh HKBP pada masa lalu dan apabila penetapan bakal calon di tingkat pendahuluan ini dilaksanakan dengan murni.

Yang ideal, apabila masing-masing distrik mampu mencalonkan bakal calon Ephorus dari distrik masing-masing. Justru keberhasilan menentukan siapa calon terbaik ditinjau dari segala bentuk persyaratan menjadi pimpinan sangat ditentukan pada tingkat pemilihan bakal calon di distrik. Persyaratan dimaksud misalnya tingkat pendidikan, tingkat pengalaman melayani pada peta pelayanan HKBP di desa tertinggal, pedesaan, perkotaan dan kota besar, tingkat pengalaman pelayanan kemitraan lokal, antar lembaga gereja, dengan lembaga sosial masyarakat, dengan pemerintahan setempat dan nasional, juga di tingkat internasional dan persyaratan umum lainnya.

Tangga pemilihan selanjutnya di sinode godang dengan berbagai cara: Pertama, “manjomput nasinurat langsung”, dimana dalam sinode godang sudah terkumpul semua nama bakal calon dari setiap distrik, nama yang sama dikeluarkan dulu sehingga hanya ada satu nama untuk seorang bakal calon berada dalam piring pemilihan. Lalu diberikan kehormatan kepada seorang sinodisten apakah langsung oleh Ephorus, atau pimpinan HKBP tertua, atau sinodisten tertua atau termuda, tergantung keputusan sinode godang, tugasnya ialah mengambil satu nama dari 26 atau kurang dari 26 nama yang ada, dan nama yang terpilih langsung menjadi Ephorus HKBP periode 2008-2013, demikian simple.

Cara kedua: “manjomput nasinurat bertingkat” mengurangi jumlah bakal calon yang diajukan dari distrik menjadi setengahnya yaitu 13, dengan cara lebih dulu menetapkan dengan doa 13 orang dari sinodisten untuk mengambil nama bakal calon. Bila masih diperlukan memilih dari 13 menjadi 6 atau 7 orang calon Ephorus, yaitu dengan memilih dengan doa 6 atau 7 orang pengambil nama calon Ephorus. Bila sudah cukup pada angka 13 bakal calon kemudian diangkat 1 orang dari sinodisten untuk mengambil nama calon Ephorus. Bila masih dilanjutkan memilih 6 atau 7 orang calon maka dipilih 1 orang dari sinodisten untuk memilih satu nama yang ditetapkan menjadi Ephorus.

Cara pertama di atas, manjomput na sinurat langsung, boleh diganti dengan alternatif lain yaitu mengganti penentuan bakal calon tidak di tingkat distrik tetapi justru langsung di tingkat sinode godang dimana seluruh sinodisten (kurang lebih 1.000 orang) memilih bakal calon dengan doa secara bebas, kemudian ditentukan 1 orang untuk mengambil 1 dari antara jumlah nama yang dipilih oleh sinodisten, yang kemudian ditetapkan menjadi Ephorus terpilih.

Atau bila lebih tepat masuk pada cara kedua, manjomput nasinurat bertingkat, dimana diantara sinodisten dipilih 26 orang mewakili masing-masing distrik untuk memilih 26 bakal calon, kemudian dipilih lagi 6 atau 7 lagi dari sinodisten untuk memilih 6 atau 7 bakal calon. Selanjutnya dipilih 1 orang dari peserta sinodisten untuk memilih 1 nama yang akan ditetapkan menjadi pimpinan terpilih.

Namun cara pemilihan pendahuluan penentuan bakal calon di tingkat sinode godang sangat riskan karena di sana sangat mungkin ada peluang terjadinya kampanye pribadi melalui penyebaran kartu nama atau perkunjungan pribadi dan keluarga yang ingin jadi calon, pengiriman sms melalui ponsel hp, serta rekayasa kelompok untuk memilih bakal calon tertentu. Pemilihan pendahuluan di sinode godang lebih riskan dari pada dilakukan di tingkat sinode distrik.

Hal yang sama boleh dilakukan untuk setiap pemilihan baik di tingkat pusat untuk jabatan lain misalnya untuk memilih Sekretaris Jenderal dan Kepala Departemen serta Praeses. Juga di tingkat distrik untuk memilih Kepala Bidang, anggota Majelis Pekerja Sinode (MPS), dan Majelis Pekerja Sinode Distrik (MPSD) yang pengusulan bakal calon sudah dimulai dari rapat Majelis Resort.

Demikian seterusnya di tingkat Ressort untuk memilih anggota Majelis Resort, yang pengusulan bakal calon sudah diajukan majelis jemaat. Bahkan di tingkat Jemaat (Huria) untuk memilih Pimpinan Jemaat gereja cabang, Ketua Dewan, Ketua Parartaon, Ketua Panitia Pembangunan, Ketua-ketua Seksi, Ketua Yayasan yang pengusulan bakal calon sudah dimulai oleh rapat majelis atau rapat jemaat.

Manfaat dengan memakai metode pemilihan seperti ini ialah mengurangi terjadinya rekayasa politik pemilihan baik di tingkat sinode godang dan sinode distrik hingga di tingkat jemaat. Kampanye dan rekayasa hanya mungkin terjadi di tingkat pemilihan pendahuluan untuk pengusulan bakal calon. Kuasa doa dan kuasa Tuhan lebih didambakan melalui teknik ini, sehingga siapa pun yang terpilih kita yakini adalah karena campur tangan langsung Tuhan Raja Gereja. Penunjukan Tuhan lebih dominan disini. Sinodisten memiliki banyak waktu membahas laporan Pimpinan HKBP, menetapkan anggaran dan program HKBP dan agenda sinode lainnya secara lebih efektif.

Dengan cara lama boleh terjadi rekayasa di tingkat sinode godang terutama dalam penghitungan surat suara dari kurang lebih 1000 orang sinodisten, sehingga dalam penulisan hasil pemilihan terutama waktu memilih Kepala Departemen kemudian Praeses dimana setiap peserta sinodisten menulis 3 hingga 5 calon dan dalam hal tabulasi bisa terjadi rekayasa oleh petugas penghitung karena harus mentabulasi 3000 hingga 5000 nama, demikian banyak dan rumit.

Bagaimana caranya untuk melaksanakan teknik pemilihan ini? Utamanya ialah mengandemen pasal pemilihan pada Aturan dan Peraturan HKBP tahun 2002 lebih dahulu. Amandemen bisa dilakukan oleh peserta sinode godang yang sekarang hanya berlangsung sekali dalam satu periode, yaitu tahun 2008. masalahnya sekarang sekaligus menjadi pertanyaan:”apakah hasil amandemen pada sinode godang tahun 2008 boleh langsung dipraktekkan pada sinode godang yang sedang berjalan tersebut?”

Bila ya, maka teknik pemilihan seperti ini bisa langsung dapat dilaksanakan, paling tidak dengan pemilihan pendahuluan di tingkat sinode godang bukan di tingkat sinode distrik. Namun bila tidak, maka harus ditunggu hingga periode sinode godang yang akan datang, 4 tahun kemudian. Disinilah kemudian titik permasalahannya, keburu terjadi permasalahan seperti kita takutkan pada awal tulisan ini bila harus menunggu periode yang akan datang.

Penulis: Anggota Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP dari Distrik VIII Jawa Kalimantan, Th. 2003-2008


Responses

  1. Saya sangat setuju memilih fungsionaris HKBP dengan cara “manjomput nasinurat” untuk tahun 2012. Melihat pengalaman dalam pemilihan pimpinan di SG 2008, mengerikan sekali, sepertinya tidak lagi memilih pimpinan HKBP atau pimpinan gereja Tuhan. Ada yang bertanya kepada saya ” dari mana Pdt.Esther tau”. Saya jawab, karena saya melihat bagaimana para calon, membeli suara dengan cara-cara tidak wajar, membagi-bagi sesuatu kepada utusan dan memberi janji-janji manis kepada utusan. Sekarang bagi mereka yang tidak turut memilih dirinya, cepat dimutasikan ketempat dimana tidak lagi sesuai dengan jenjang kariernya, contoh: pendeta yang telah 18 tahun melayani dikirim ketempat yang dimana ia harus menggantikan yang baru 1 tahun ditahbiskan. Ketika kami ditahbiskan, para emiritus dan juga di rapat pendeta selalu ditekankan bila memutasikan para pelayan supaya diperhitungkan jenjang kariernya sehingga tidak menimbulkan masalah di jemaat dan juga di diri si pelayan itu sendiri. Saat ini mutasi dilaksanakan dengan sistim memenuhi janji kepada pendukung yang memilih dirinya, dan balas dendam kepada yang mengkritik kepemimpinannya. Apakah HKBP masih huria ni Debata,…Saya terus bertanya kepada Tuhan. Adakah saya masih melayani lagi di ladang Tuhan, yang saya rasakan penuh bara yang sampai kapan akan berakrir. Peserta SG, bukan hanya pendeta, bibelv,.guru huria, sintua tetapi juga warga jemaat non partohonan, yang pada akhirnya turut serta dalam permainan dunia setelah menerima oleh-oleh dari calonnya. Sungguh tragis nasibmu HKBP, itulah yang selalu saya katakan di dalam hati. Bila warga jemaatnya, anggota SG tidak terpanggil untuk memperbaiki gereja Tuhan, yang kini semakin banyak di perbincangkan akibat banyak ulah yang tidak benar, saya yakin Tuhan akan meninggalkan HKBP. Mari trus berjuang memperbaikinya dengan trus berteriak dan berbuat/bertindak sampai Tuhan langsung campur tangan menatanya. TKS. It’s my comment, ok bapak!

    Mestinya usul saya yang sudah saya usulkan sejak saya menjadi anggota MPS (dulu Parhalado Pusat) harus ditindaklanjuti oleh anggota MPS periode sekarang. Mumpung Ephorus sekarang tidak memiliki kepentingan lagi untuk menjadi Ephorus periode berikut, karena terhalang aturan. Atau diajukan sebagai poin amandemen AP HKBP mumpung tahun 2010 ini adalah tahun amandemen terhadap AP HKBP yang akan disidangkan juga tahun ini. Selamat berjuang. Horas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: