Posted by: todung | 17 March 2008

MOTIVASI PENDETA HKBP DI KOTA BESAR

Kuesioner kecil-kecilan saya lakukan kepada beberapa anggota jemaat dan penatua HKBP di Jakarta sehingga saya menyimpulkan ada kesan umum tentang pendeta HKBP di kota besar seperti berikut: mereka cenderung bercita-cita dan harus memiliki mobil pribadi, memiliki rumah pribadi di estat, menyekolahkan anak di sekolah dan perguruan tinggi unggulan, menikahkan anak dengan pesta pora, memiliki pendapatan gaji (take home pay) lebih tinggi dari pegawai tinggi PNS setara dengan pangkat/golongannya, berkeinginan memiliki tanah sebagai asset serta ingin memiliki bisnis sendiri di dalam dan di luar kota. Terkesan mewah.

Apabila kita tanya langsung kepada beberapa pendeta, mereka menjelaskan bahwa hanya beberapa pendeta yang seperti itu, dan umumnya pendeta terkesan biasa-biasa saja. Pertanyaan timbul juga dalam hati: apakah memang pendeta tidak boleh mewah? Siapa yang melarang? Pendeta juga manusia. Jemaat juga bangga bila pendetanya tidak kalah dari pendeta gereja lain di kotanya.

Mengapa bisa sedemikian mewah? Perilaku rajin menabung dan irit keluarga merupakan alasan utama sehingga mereka boleh mewah. Selain itu, memang pendapatan pendeta di kota besar lumayan banyak. Gaji pokok yang ditetapkan oleh pusat HKBP untuk kota besar masih dilipatgandakan sebesar 2,5 hingga 4 kali. Gaji pokok asli untuk golongan 3/a masa kerja 15 tahun misalnya Rp 1.300.000.- diterima “take home pay” sebesar 3 hingga 4 juta per bulan. Ditambah lagi uang transport berkhotbah di gereja pelayanannya terutama di luar gerejanya rata-rata 2 kali berkhotbah setiap minggu.

Masih ditambah lagi dengan ucapan syukur dari anggota jemaat yang jumlahnya diwartakan atau langsung di-salamkan pada saat kebaktian wilayah, pelayanan baptisan, sidi, perjanjian akad pernikahan dan pemberkatan nikah. Ucapan syukur dari pelayanan khotbah pada acara perayaan adat, marga dan kelompok jemaat atau masyarakat lainnya.

 

Pengeluaran seperti pajak atas pendapatan atau setoran urunan dana pensiun serta kewajiban lain sebagai pendeta, tidak terlalu berarti. Pada umumnya pendeta di kota besar adalah pendeta yang agak senior yang tadinya melayani di pedesaan seterusnya ke kota kecil, perkotaan dan akhirnya di kota besar, mereka sudah membawa cukup asset dari pelayanan di wilayah pelayanan sebelumnya.

Modal apa yang dimiliki pendeta sehingga mampu memiliki kesan mewah? Selain irit dan suka menabung, mereka sangat memperhatikan anggota jemaat, murah senyum dan tidak pernah menyakiti hati warga jemaat dan penatua setempat. Pendeta yang bicaranya sombong dan tinggi agaknya tidak laku di kota besar. Modal lain berupa kemampuan berkhotbah, berupaya agar khotbah menarik, ada yang berupaya agak mirip dengan khotbah pendeta kharismatik, ada yang selalu humor (dagelan), ada yang memakai berbagai illustrasi, ada yang dengan tegas menunjukkan anti terhadap cara-cara kharismatik, ada yang mampu menjelaskan kebanggaan sebagai gereja besar HKBP, ada yang berwibawa, ada yang mampu menghubung-hubungkan permasalahan, topik bahasan pembicaraan dengan ayat-ayat Alkitab yang relevan.

Wajah kasihan (bohi ampinan) merupakan modal selanjutnya, tidak ketahuan dan tidak membawa kesan mewah, secukupnya saja, tetapi tidak terlalu ketinggalan, minimal dasi yang dipakai boleh berubah setiap saat, setiap tampil menggunakan jas, atau hem pakai dasi dan sepatu, lebih gaya sedikit dari kebiasaan jemaat dalam berpakaian.

Mampu bergabung akrab dengan rekan sejawat, bahkan bergurau dengan pimpinan, juga kepada tokoh dan pejabat setempat di hadapan jemaat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pendeta dari resort lain serta pimpinan yang dijadualkan datang bergantian berkhotbah di gereja induk dan cabang (sabungan dan pagaran), pertanda keakraban sesama pendeta.

Kesan berwibawa juga menjadi modal. Pada saatnya boleh marah dan tegas kepada siapa saja anggota jemaat atau penatua, terutama yang tidak memiliki apa-apa yang mencoba melecehkan pendeta atau jelas-jelas salah atas pendapatnya. Keunikan HKBP yang pada umumnya memiliki jemaat bermarga dan beradat, dapat menjadi modal sehingga kekerabatan semarga dan seadat mendukung kedudukan dan keuangannya.

Dalam Aturan dan Peraturan (AP) HKBP tahun 2002 diaturkan bahwa Pendeta Ressort menjadi uluan ni huria (pimpinan jemaat) di gereja induk, memberi peluang memanajemeni segala sesuatu dalam gereja. Tidak seperti dulu, menurut AP yang lama masih ada Guru Huria sehingga di gereja induk ada dua pimpinan yang dalam banyak tempat dapat menjadi kendala dan dualisme dalam kepemimpinan di gereja induk. Pelaksanaan AP baru pun ikut merembes ke gereja-gereja cabang dimana pendeta diperbantukan menjadi uluan ni huria di huria pagaran melalui SK dari pusat HKBP yang dikukuhkan oleh Praeses Distrik setempat.

Adakah kesan negatif dengan motif dan citra di atas? Yang pertama, kesan menomorduakan pelayanan Firman Tuhan, motif pemberitaan Firman Tuhan menjadi tidak jelas, khotbah pada kebaktian minggu dan kebaktian wilayah (wijk/lunggu/banjar) terkesan hanya sebagai rutinitas. Pendeta Ressort terlalu fokus dan sibuk melakukan manajemen gereja, menangani hal-hal kecil dari sampah, sound systems hingga yang rumit seperti keuangan, termasuk pendelegasian tugas yang dalam beberapa tempat terkesan gamang atau di tempat lain terkesan mapan.

Pelayanan khususnya kepada sekolah minggu, remaja dan NHKBP tidak optimal bahkan tidak terjangkau oleh pendeta, cukup diserahkan kepada seksi sekolah minggu atau langsung kepada guru-guru-nya. Hal ini juga memaksa menghadirkan pendeta-pendeta pembantu di huria sabungan, karena alasan kesibukan pendeta resort. Kehadiran pendeta pembantu di resort sebenarnya perlu diaudit, apakah benar karena kesibukan pendeta resort melayani internal gereja atau karena kesibukannya melayani atau berkegiatan di luar gereja?

Rasa memiliki (sense of belonging) gereja menjadi semakin tidak jelas, dibandingkan dengan hal serupa yang dimiliki oleh guru huria yang berasal dari huria setempat menurut AP HKBP yang lama. Pendeta lebih memikirkan manjemen diri selama periode 5-6 tahun menjabat sebgai pendeta resort, sehingga untuk mengadakan gerakan-gerakan pembangunan serta kegiatan yang berat-berat menjadi dua hati. Dan pada akhir masa tugas jauh-jauh hari semuanya terfokus pada acara-acara perpindahan, membentuk sebanyak mungkin kelompok paduan suara di wijk dan di gereja. Sedangkan dulu, guru huria dari penatua setempat menggebu-gebu membangun sana membangun sini, tiada hari tanpa membangun.

Pendeta sulit menerima kemajuan pengembangan pelayanan yang diajukan oleh anggota jemaat misalnya pelayanan program kunjungan ke penjara atau rumah sakit, program asuransi, program cu (credit union), perpustakaan, in focus kebaktian, pelayanan korban narkoba dan HIV Aids, Music Box, pengobatan cuma-cuma serta program lain. Awalnya seperti disetujui dan disambut dengan kata: “bagus itu, mari kita bicarakan di sermon”, namun akhirnya tidak dalam penaganannya, karena kurang wawasan, menurutnya semua itu sebagai hal yang buang-buang waktu, dan membuat pusing pikiran.

 

Hal yang kedua berupa dualisme kepemimpinan. Dulu dualisme terjadi dengan guru huria dalam AP yang lama, sekarang justru dengan pendeta diperbantukan yang melayani di huria sabungan terutama dengan pendeta diperbantukan di huria pagaran yang sudah diangkat menjadi sama-sama uluan ni huria. Terjadi egoisme sentries gereja bahkan kompetisi kepemimpinan antara pendeta resort dengan uluan ni huria dari pendeta di pagaran dalam satu resort.

Selanjutnya ketiga, bahwa penempatan pendeta usia tengah baya bahkan tua di kota besar terkesan agar gereja di kota besar mampu membiayai pendeta yang sudah berpeluang memiliki banyak penyakit akut sebelum pensiun. Selain itu sebagian pendeta memiliki kesempatan untuk memperoleh kekayaan seperti mobil, motor, rumah, sekolah anak di sekolah dan perguruan tinggi yang unggul, boleh berpesta pora untuk pernikahan anak, memiliki tanah dan bisnis serta memiliki hari tua yang lebih baik, seperti telah diulas di atas.

Tentang Rasa memiliki: Gereja dibangun oleh anggota jemaat setempat, lalu didaftarkan ke Pusat HKBP. Dengan pendaftaran inilah maka gereja itu otomatis menjadi milik HKBP Pusat, walau pun tidak sepeserpun dana diberikan oleh Pusat kepadanya, hanya modal pendaftaran dan peresmian. Dengan AP HKBP 2002, karena gereja HKBP milik Pusat maka harus dipimpin oleh orang Pusat yaitu pendeta yang ditugaskan sebagai pendeta ressort sekaligus pimpinan jemaat (uluan ni huria). Warga setempat hanya boleh sebagai anggota dan paling tinggi sebagai penatua atau setingkat ketua dewan, tidak dibolehkan memimpin gereja yang dibangun oleh mereka sendiri.

Hal ini boleh berakibat fatal bagi perkembangan asset gereja HKBP selanjutnya. Kasus ini memberi peluang dengan kesepakatan mayoritas jemaat untuk menarik kembali kepemilikan gereja dari HKBP. Atau gereja yang baru dibangun tidak lagi mendaftar kepada HKBP Pusat namun justru ke gereja lain.

Apabila dipertanyakan, mungkin para pendeta dan perancang konsep aturan ini akan berdalih bertanya apakah di setiap gereja masih jelas siapa yang disebut sebagai anggota jemaat setempat? Apakah kita mau kembali pada masa lalu yang mana terjadi justru konflik, perselisihan antar tokoh jemaat setempat dan tokoh yang terkait dengan pendeta? Justru karena banyaknya perselisihan maka ditempatkanlah pendeta resort sebagai pimpinan jemaat di gereja induk menurut pada AP 2002, dan hal ini pentingnya demi rekonsiliasi total pada saat itu.

Namun menurut banyak kalangan dan pengalaman beberapa gereja sebagai akibat dari pasal ini, masih lebih baik untuk kembali pada AP HKBP sebelumnya dimana pimpinan jemaat boleh dipegang oleh partohonan di HKBP (pendeta, guru huria, biblevroow, diakones, evangelis dan sintua), dan resort dipegang oleh Pendeta Ressort terpisah dari Pimpinan Jemaat. Untuk itu sangat perlu dipertimbangkan agar AP 2002 tentang pasal tersebut diperbaiki dan diamandemen.

Kembali kepada topik: Sekarang bagaimana seharusnya kualitas pelayanan pendeta di kota besar? Lupakanlah cita-cita pendeta untuk menjadi orang yang mewah. Jaman ini bukan jaman Perjanjian Lama dimana Tuhan Allah memberi berkat kekayaan dan hikmat seperti kepada David dan Salomo, namun sudah jaman Perjanjian Baru dimana Petrus sendiri mau tersalib terbalik, dan sama tragisnya menurut ukuran dunia yang terjadi kepada Paulus.

Pendeta selain berkhotbah pada hari minggu dan kebaktian wilayah harus dilengkapi dan diperkaya dengan pelayanan kepada Sekolah Minggu, Remaja, NHKBP, Perempuan dan Kaum bapa serta Lanjut Usia secara konseptual yaitu mengenai pedoman, materi, jadual, system belajar, tingkat dan kesinambungan, tenaga pendidik/pendamping dan ketenagaan. Jangan terlalu banyak tukar pengkhotbah antar gereja, pastikan bahwa missi yang dibawa pendeta pasti kurang waktu untuk menjemaatkannya kepada jemaat baik melalui khotbah mau pun aneka sistem pembelajaran lainnya.

Terkesan pendeta setempat kurang percaya dengan khotbahnya sendiri sehingga memerlukan pengkhotbah lain untuk merubah situasi, namun terdapat kesan lain untuk menambah pengalaman dan pendapatan, dan yang terakhir disinyalir oleh jemaat bahwa pertukaran pendeta setiap minggu sebagai cara pendeta memberi dan menerima dalam penyatuan sikap pada suksesi politik pemilihan pimpinan yang akan datang.

Sebaiknya pendeta menggunakan uang kemewahan yang ada untuk pengadaan buku-buku rohani dan referensi, bila perlu membentuk perpustakaan gereja bagi pendeta, penatua dan jemaat. Atau alternative lain, bahwa cara kemewahan itu diteruskan, namun pada akhirnya kota besar menjadi tempat yang untuk meningkatkan kualitas pendeta HKBP melalui kemewahan sehingga setiap pendeta HKBP dimutasikan pernah menjadi pendeta di kota besar dan semua dapat menikmatinya.

Sebagai penutup: Pendeta HKBP di kota besar sangat besar pengaruhnya pada perkembangan HKBP selanjutnya, karena menjadi contoh bagi kebanyakan pendeta di seluruh kawasan HKBP. Untuk itu kesan mewah duniawi harus ditinggalkan, biarkan itu milik para pendeta koruptor (pencuri uang) dan pengumpul kekayaan yang tidak perlu ditiru. Tinggalkan kemewahan pendeta.

Saya terkesan kepada dua orang pendeta muda di Jakarta. Yang satu pada awal tahun 2000 ditugaskan ke perbatasan dengan Negara tetangga. Saya bertemu terakhir bulan lalu (Juli 2007) dia dengan rendah hati berbunga menceritakan akan membangun gereja lagi setelah 3 gereja sebelumnya telah dibangun bersama jemaat, dia tidak memiliki apa-apa kecuali anaknya bertambah jadi 4 orang. Satu lagi pendeta, tanpa peduli gaji, disuruh pindah ke distrik lain di Jakarta, langsung berangkat bersama isteri dan anak-anaknya. Katanya: Tuhan tidak akan membiarkan kita tidak makan. Yang penting melayani Tuhan.

 

Penulis: Anggota Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP dari Distrik VIII Jawa Kalimantan, Th. 2003-2008

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: