Posted by: todung | 17 March 2008

PILIH-PILIH PENDETA DAN PENGKHOTBAH SELAMA HIDUP

Ada anggota gereja yang sejak tahu tentang khotbah, hanya menilai dan mengamati pendeta yang berkhotbah, tanpa memiliki apa isi khotbah yang dia dengar. Dia menilai cara pendeta berkhotbah, dia suka apabila khotbah bisa dengan ringan diolah oleh pikirannya. Khotbah yang didengar boleh membuat gembira dan tertawa, dan berisi banyak illustrasi. Namun baru di gerbang tempat ibadah, ditanya apa isi khotbah tadi? Tidak bisa dijawab dengan baik.

Bila selama hidup kerjanya hanya mengamati dan menilai pendeta, rasanya kapan untuk menerima dan memelihara khotbah untuk berbuah serta di dalam dirinya? Biasanya anggota jemaat seperti ini buang-buang waktu dalam hidupnya, selalu memilih-milih pendeta yang akan berkhotbah, tidak segan menolak kehadiran pendeta atau pengkhotbah lain yang tidak sesuai dengan keinginannya untuk berkhotbah di depannya atau dia sendiri tidak akan hadir beribadah bila tidak dikhotbahi pendeta yang tidak cocok dengannya. Bila tiba hari Minggu atau saat kebaktian wilayah maka dia selalu bertanya dulu siapa pengkhotbahnya? Bila di rumahnya dijadwalkan kebaktian wilayah atau anaknya mengadakan pernyataan akad nikah atau pemberkatan nikah, dia tanya dulu siapa pengkhotbahnya atau dia meminta agar Pendeta Anu yang berkhotbah. Hal seperti ini besar andilnya dan sangat memberi peluang menciptakan keributan di tengah jemaat.

Dia selalu membanding-bandingkan pengkhotbahnya, yang satu disanjung setinggi langit yang satu lagi dioceh serendah neraka. Jemaat seperti ini juga sifatnya mudah bosan (bosanan), pengkhotbah yang tadinya disanjung, tidak lama kemudian sudah diolok dan berkata: dulu, waktu dia baru datang khotbahnya bagus-bagus, sekarang sudah melempem, sudah redup, tidak enak lagi, sudah putus kamus. Perlu diganti dengan pendeta lain. Kalau tidak, dia akan pindah berkebaktian ke gereja lain yang pengkhotbahnya enak-enak. Dia sendiri tidak merasa memiliki atas gerejanya, sehingga dengan mudah untuk pindah-pindah gereja atau pindah kebaktian. Ada yang pindah gereja ke gereja-gereja terdekat hanya untuk mendengar khotbah yang enak-enak, menurutnya, tetapi tidak lama kemudian sudah pindah kembali ke gereja/sekte awalnya walau pun di kota lain karena malu bila kembali ke gereja semula.

Tentang perpindahan ini sangat spekulatif. Dia pindah kembali ke gereja awal terutama karena anak-anaknya sudah akan di baptis, sidi, atau akan menikah, atau dirinya sudah mulai merasa mulai tua dan merasa bila tiba waktunya harus dikuburkan dengan agenda penguburan gereja awal misalnya HKBP atau Katholik. Karena menurutnya, masih lebih surgawi melakukan kegiatan seremonial rohani oleh liturgi/agenda gereja awal tersebut. Walau pun selama dia di gereja lain dia mengata-ngatai gerejanya itu, katanya:

Tidak ada roh di gereja ini, pendetanya tidak dikaruniai roh dalam berkhotbah, penatuanya bicara duit melulu. Di gereja sini, tidak pernah dibicarakan uang, semuanya tersedia, bahkan makanpun diberikan, jemaat di sini memberikan persepuluhan dengan jumlah besar, di gereja awal tidak diperlukan persepuluhan, katanya yang terbaik ialah persembahan dari hati yang tulus ikhlas namun ikhlasnya hanya dengan uang recehan terkecil seratus, lima ratus, seribu paling tinggi lima ribu rupiah. Sehingga waktu saya di gererja lama tidak pernah memberikan persepuluhan, disini dengan suka cita saya memberikan persepuluhan. Persembahan disini sungguh luar biasa, puluhan juta setiap kebaktian, tidak seperti di gereja lama kolekte hanya sedikit. Itu pun tidak jelas uangnya dikemanakan oleh pendeta dan penatuanya, mereka berkelahi melulu karena uang”.

Pelayan disini sangat memperhatikan jemaat, seorang pelayan bertanggung jawab melayani dan mendoakan 6 orang setiap saat. Di gereja lama sepanjang tahun pendeta dan penatuanya tidak pernah berkunjung kepada jemaat kecuali minta duit untuk iuran bulanan atau tahunan untuk gereja, pembangunan dan diakonia. Duit gereja dimakan melulu, duit pembangunan ditagih tetapi pembangunannya tidak jadi-jadi, membangun fisik melulu sepanjang masa tidak pernah membangun rohani, dan duit diakonia habis melulu tetapi tidak ada jemaat yang dikunjungi dan dilayani”.

Anggota jemaat seperti ini mengaku dirinya sudah menjadi manusia baru namun bicaranya masih manusia lama, mengoceh, mengolok, mengata-ngatai dengan fakta yang belum tentu dapat dibuktikan, hanya dengan bicara asal-asalan tanpa bayar, tanpa perangko, tanpa resiko.

Pada jamannya gereja lama masih memiliki pendeta dengan jumlah yang sedikit dengan penuh wibawa, maka pendeta, penatua dan evanggelis dengan sukacita boleh berkhotbah di depan warga jemaat, semuanya disukai jemaat. Jemaat tidak mencari pengkhotbahnya tetapi isi khotbahnya dibawa pulang mentah-mentah lalu dimasak dan berbuah dalam dirinya. Hasilnya bahwa masa depannya selalu memperoleh berkat dari Tuhan. Keluarganya diberkati turun temurun. Gereja pun brkembang dimana-mana.

Memilih-milih pendeta dan pengkhotbah biasanya dilakukan oleh jemaat yang agak terbiasa berjiwa panggung, bergairah, romantis, suka pamer, suka menari-nari, sentimental, lebih suka melihat yang kasat mata, luarnya saja, dari pada melihat yang dalam dan hikmat, lebih suka yang masuk akal saja. Sifat ini pun mudah ditiru oleh anak-anak dan remaja yang suka kelihatan dramatis dalam ibadah. Sehingga khotbah yang disukai pun adalah khotbah yang agak vulgar, menarik hati, dialogis, menantang dan fantastis. Bangunan gereja tidak masuk dalam akalnya karena gereja tidak berjiwa panggung, cocok hanya untuk orang tua. Maka lebih cocok hadir mendengarkan khotbah di hotel, di tempat terbuka dan di tempat yang bebas.

Suka membicarakan kedatangan roh yang dikira seperti kedatangan hantu, namun bicara lebih dalam tentang roh, dia akan lari dari ibadah dan tidak mau mendengarkan untuk keduakalinya. Karena membicarakan roh adalah membicarakan yang terdalam dari iman, suatu perbincangan perihal yang tidak akan masuk akal baginya. Jemaat seperti ini selalu mendambakan akalnya. Bagi jemaat yang tidak perlu memilih-milih pengkhotbah, dia terima saja walau pun tidak masuk akal, dia yakin walau pun akal tidak bisa menerima namun rohnya pasti menerimanya dalam kebenaran, dia mengesampingkan akal dan berserah sepenuhnya dalam iman kepada Tuhan.

Jemaat yang suka memilih-milih penghotbah lebih mendambakan berkat duniawi seperti berkat harta, berkat kekayaan, berkat kesembuhan, berkat kebahagiaan, berkat duniawi, berkat untuk diri sendiri yang dapat ditunjukkan kepada dunia sekelilingnya sebagai orang yang diberkati Tuhan bersumber dari khotbah yang menyemangatinya dan atas kuasa doa-doanya. Semua Firman Tuhan diarahkan dan diberi arti untuk perolehan berkat-berkat duniawi seperti itu. Sehingga pengkhotbah yang disenangi juga harus yang dapat membuktikan bahwa dirinya diberkati Tuhan atas berkat-berkat duniawi yang dimilikinya, pengkhotbah yang kaya, yang punya harta, punya mobil mahal, pengkhotbah yang mampu memperlihatkan kewibawaan dan kebahagiaan.

Kecenderungan ini juga turut merubah sikap para pendeta dewasa ini. Sedang pengkhotbah yang tidak memiliki apa-apa tidak masuk dalam kategori enak baginya. Dia berfikir, mendoakan dirinya saja pengkhotbah ini tidak mampu memiliki penampilan yang hebat, apalagi memberitakan khotbah kepada orang lain?, mustahil. Dia hanya bermodalkan toga hitam baju kebesaran pendeta dan SK (Surat Keputusan) kependetaan dari pimpinannya saja, siapa yang mau mendengarkan khotbahnya?

Pengkhotbah yang disenangi ialah yang mampu membawa dirinya dan jemaatnya dipertunjukkan di hadapan umum, disuarakan dalam siaran radio, ditayangkan dalam channel tv local, nasional dan internasional, didokumenkan melalui cd dan dvd, didisplay sebagai hasil panen kepelayanannya. Kesohor dimana-mana, di tingkat nasional dan internasional. Pengkhotbah yang mampu menghubungkan dan menyanyikan musik-musik panggung dan yang mampu mengaitkan musik dengan khotbahnya demikian menggugah lebih disukai. Bagi jemaat yang suka memilih pendeta dan pengkhotbah hanya terbatas bila pendeta dan pengkhotbah itu masih ada, namun apabila sudah tiada maka dia harus memilih lagi pendeta yang dia sukai. Sebuah kehidupan gereja suka-suka sendiri.

Sebagai penutup; Sekiranya tidak ada jemaat yang suka memilih-milih pendeta dan pengkhotbah, sadar untuk lebih membuahkan Firman Tuhan dari pada mengetahunya saja, serta apabila pendeta dan pengkhotbah pun boleh memperbaiki pelayanan khotbahnya, maka tidak banyak pertentangan dalam gereja, tidak ada jemaat yang spekulatif dalam ibadah dan keanggotaan gerejanya. Ibadah gereja lama pun tidak akan mendua namun satu, tidak terkontaminasi dengan ibadah gereja lain.

Ibadah Gereja lama yang karakteristik dengan menggunakan hanya satu agenda/liturgi sudah terbukti membesarkan gereja tersebut begitu luas, sekali lagi hanya karena satu agenda. Tatanan liturgi “Agenda” yang dibilang orang monoton, namun dengan kemonotonannya dan kesukaan jemaat mendengarkan Firman Tuhan serta melakukan perintahNya maka berkat dipanen oleh jemaat dan gerejanya hingga ke mana-mana di berbagai pelosok, kota bahkan di manca Negara.

Penulis: Anggota Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP dari Distrik VIII Jawa Kalimantan, Th. 2003-2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: