Posted by: todung | 17 March 2008

REKRUTMEN PELAYAN GEREJA HKBP

A. THE GREAT CHURCH OF HKBP

Karena sudah terlanjur ada istilah HKBP NA BOLON I (The Great Church of HKBP) banyak orang mencoba memperkecil arti kebesaran HKBP dengan berbagai kepentingan, namun saya ingin menyatakan bahwa HKBP itu memang besar, dipandang dari segala sudut pelayanan masa kini dan harapan masa depan yang sangat karakteristik. Gereja yang berpusat di desa kecil Pearaja dengan basis etnik kecil namun boleh berpenetrasi dan menjalar hingga mendunia, selain di Indonesia sendiri. Kita sendiri juga takjub. Pada hal penetrasi Gereja HKBP demikian hanya didukung oleh liturgi yang sangat monoton dan keakraban roh etnis yang sangat kental. Pikiran para pesaing, bahwa begitu mudah merusaknya cukup dengan mengejek dan buka opini “monotonious” atau mencari kata kunci merusak “budaya etnis” itu sendiri, HKBP sudah rusak.

Semakin hebat lagi dengan visinya yang baru sangat Nabiah, salah satunya “inklusif”. Jangan heran bila ada pelayanan gereja HKBP bagi orang-orang miskin non Kristen tanpa maksud apa-apa dan tanpa dokumentasi apa-apa di daerah Jakarta terutama di pinggiran kota. Demikian terjadi di kota-kota lainnya terutama di daerah bencana alam. Gereja merasakan bahwa semua kita manusia adalah ciptaan Tuhan. We are the world. Melihat ini, ia termasuk dalam kategori “think locally, do globally”. Masih tambah hebat lagi apabila penetrasi gereja HKBP dewasa ini dilanjutkan melalui banyak teknik operasional seperti pembengkelan (work shop) melalui pembentukan himpunan pencinta, membuat membership card yang modern dan fungsional, differensiasi, klinik rohani, media informasi dan komunikasi serta research, selain menstandarkan pelayanan rutin seperti administrasi perkantoran, administrasi kepegawaian, administrasi harta (inventaris) dan administrasi keuangan.

Dalam hal differensiasi (penganekaragaman) diperlukan pengkaderan berbagai jenis pelayan dan pelayanan (ekonomi, keuangan, politik, sosial, hukum dan hak azasi manusia, pemerintahan) yang memiliki sikap kepemimpinan khusus, memperbanyak saluran pelayanan di tingkat pusat, regional dan jemaat (hulu-hilir), sehingga memiliki penjualan yang unik (unique selling) dan semakin banyak anggota jemaat sebagai pelanggan yang senantiasa tahu kebutuhannya, seperti pasien yang selalu pergi general check up, tahu dan sadar akan kebutuhan kesehatan jiwa dan rohaninya. Mengapa sekte-sekte karismatik dan pentakostal dewasa ini justru yang memiliki unique selling yang tinggi, bukan gereja-gereja yang berdiri lebih awal, seperti dahulu?

B. MANAGEMEN PELAYANAN MASA DEPAN

Gereja masa depan dalam jangka pendek sudah seharusnya masuk dalam manajemen modern yang serba elektronik terutama dalam hal akses internet dan website. Peluang untuk itu sudah tersedia sekarang di pasar bahkan sudah masuk pada pasar marginal. Banyak gereja sudah mempersiapkan perangkat untuk menangkap dan masuk dalam era itu namun pelaku-pelaku manajemen gereja terutama pendeta dari tingkat pusat hingga pimpinan jemaat belum website minded. Saya perkirakan bahwa pimpinan gereja yang akan dipilih pada periode 2010 seterusnya bahkan sebelumnya ialah mereka yang sudah berjiwa itu, dan penunjukan pimpinan jemaat dan pimpinan lembaga sudah harus mempertimbangkan tahapan itu untuk melengkapi gereja yang lebih modern global dan atau paling tidak dapat mengikuti jaman, kurang dari itu sudah termasuk dalam kategori kepemimpinan gereja tertinggal dan berjalan di tempat. Boleh saja gereja berdalih tidak dapat berbuat apa-apa karena masih trauma dan histeris dengan peristiwa yang terjadi secara internal, sehingga berupaya menghindar dari keterulangan masalah. Hal seperti ini sangat mungkin terjadi bagi gereja yang memiliki periode kepemimpinan pendek 3 sd 5 tahun, sehingga melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sermonialpun di setiap tingkat kepemimpinan sudah cukup tanpa suatu perubahan kemajuan, termasuk akses website di atas.
Bukan berarti semua pemimpin gereja dimaksud harus ahli di bidang internet, yang dibutuhkan ialah mereka yang mengerti, menjiwai dan komit akan penggunaan dan perolehan manfaatnya. Hal yang menjadi penghalang kemajuan banyak gereja selama ini ialah hilangnya ide yang sudah bagus yang sudah disepakati baik dalam sidang resmi tidak dapat dilaksanakan karena tidak dapat dijiwai oleh pimpinan pusat hingga pimpinan jemaat sehingga banyak program yang hanya tinggal program tanpa tindak lanjut, bahkan dengan mudah mencari kambing hitam mengapa program itu tidak dapat teraplikasikan. Hukum alam, bahwa seseorang hanya dapat dengan sukacita melaksanakan pekerjaan yang dikuasai, disukai dan tidak dipaksakan. Sehingga dibutuhkan pemimpin yang tidak merasa dipaksa memanajemeni pekerjaan internet-website itu tapi yang sudah menjiwainya dengan baik, diperlukan komitmen yang seragam baik dari pimpinan pengambil keputusan (top management), pengatur pelaksanaan keputusan (middle management) hingga di tingkat pelaksana dan front line, dan ini merupakan suatu hal yang sangat vital.

Awalnya hanya bermula dari kelengkapan “data base” jemaat dan kantor pusat, itu akan menggerakkan segala mutasi data pada semua tingkat pelayanan. Dari segi bisnis, saya perkirakan apabila dengan jumlah anggota jemaat sebanyak kl 3 – 4 juta orang dengan pemasukan dari iklan website yang sudah berisikan data lengkap sudah akan mampu memasukkan dana untuk keperluan biaya operasional satu Departemen gereja dalam satu tahun. Di lain pihak bahwa jemaatnya akan terlatih sendiri memakai website dan menggunakan email masing-masing dengan begitu mudah bagaikan menggunakan HP dewasa ini. Pengusaha, lembaga internasional dan nasional akan tertarik memasang iklan pada website bila mengetahui dengan telemarking yang pasti luas lingkup dan kualitas respondennya. Selaku responden dan pengguna, siapa yang tidak suka bila jemaat dimanapun, kapanpun boleh mengetahui perkembangan gerejanya di luar negeri atau di pusat, di pulau yang lain atau di pulau sendiri, jemaat lain atau jemaatnya sendiri atau di desa asalnya, apalagi ada namanya atau nama keluarga dan kerabat atau idolanya dalam berbagai event di dalamnya? Hasil tulisan jemaat dan pendeta penulis-penulis muda dan tua termasuk buku-buku resmi gereja, data base dalam website akan menjadi tawaran harian yang menjadi konsumsi masyarakat global, dengan membeli (download). Katakanlah dari sudut jemaat hal ini belum merupakan kebutuhan baru sekedar keinginan, namun yang dapat saya pelajari bahwa kemajuan gereja juga sangat ditentukan oleh kebijakan dan komitmen pelayanan pusatnya.

Informasi dan komunikasi sangat penting berjalan bila perlu dengan memanfaatkan media visual dan elektronik serta media cetak sendiri atau milik pengusaha atau gereja lain untuk senantiasa masuk dalam informasi dan komunikasi yang kontinu. Lebih penting lagi kesediaan para pelayan untuk task force dimana pelayan berkomunikasi langsung dengan jemaat, tidak perlu malu untuk malu, dan dengan cara “sales people” membuka pakaian seragam pelayan untuk membangun personal relationship yang demikian erat dengan jemaat. Reseach tentang follow up kebesaran gereja harus senantiasa diberlakukan baik melalui data collecting, questionnaire, test jemaat, survai, pooling, interview persepsi dan harapan (kepuasan), untuk melengkapi informasi dan komunikasi gereja. Sudah waktunya gereja besar memiliki sendiri koran harian, majalah dua mingguan atau bulanan, memiliki stasion radio dan tv sendiri yang secara fungsional menginformasikan dan mengkomunikasikan kepentingan jemaat dan suara Alkitab.

C. TARGET PELAYANAN

Apakah gereja harus memiliki target? Pertanyaan identik dengan itu ialah apakah seorang Pendeta dalam lingkup pelayanannya harus memiliki target?. Seharusnya sejak ia menerima Surat Keputusan pengangkatannya untuk melayani pada suatu daerah, lembaga atau dalam struktur tertentu, yang pertama dipikirkan termasuk target selama satu periode berada di daerah pelayanan itu disesuaikan dengan peta kegiatan daerah dan target pribadi yang menjadi “brand position” dan “price” sendiri dalam upaya lebih mengembangkan program daerah tersebut terutama dalam hal pelayanan Marturia, Koinonia dan Diakonia. Sehingga setelah periode berikutnya tenaga kepelayanannya masih dibutuhkan di tingkat yang lebih tinggi, sementara kader-kader pelayan muda di daerah itu dapat melanjutkan karya-karyanya.

Penargetan (targeting) merupakan cara kita mencapai tujuan melalui cara kita membidik, mengetahui jarak tembak yang tepat, cara kita mensukseskan secara efisien dan efektif, tercapai dengan tepat dengan pengorbanan potensi yang sesuai, serta cara kita memperhitungkan kendala yang mungkin terjadi, dan berakhir pada solusi dan sasaran yang benar. Hal ini juga harus didukung oleh motivasi, konsistensi dan komitmen progam. Dengan motivasi akan terlihat semuanya ketergantungan pada dorongan hati pelayan yang disebut sebagai “the men behind the gun” untuk mau dan mampu menarik pelatuk senjatanya untuk menembak.

Kemauan dan kemampuan menarik pelatuk didukung oleh komitmen dan konsistensi pribadi pelayan itu sendiri sebagai leader. Pelayan harus memiliki leadership yang kuat untuk sampai kepada motivasi, komitmen dan konsistensi yang pasti. Kepastian seperti itu juga masih dipengaruhi oleh tipe dan perilaku leadership, yang mungkin ia sangat otoriter, delegatif, demokratif, paternalistic, single fighter, atau berorientasi pada keberhasilan tugas (task oriented) dan mengabaikan hubungan dengan jemaat, atau berorientasi pada hubungan dengan jemaat (human oriented) mengabaikan keberhasilan tugas, atau rasio gabungan kedua orientasi itu secara efektif, atau berorientasi hanya pada perolehan materi (by revenue). Biasanya orientasi by revenue menghasilkan tembakan dan solusi yang mendua dan plin plan serta merupakan titik kulminasi turun dari sebuah pelayanan, bagaikan lemparan bumerang kembali memukul diri sendiri dan sangat sulit disembuhkan, dan targetpun tidak sampai pada tujuan. Pelayanan Imajinatif dengan pikiran yang senantiasa berputar-putar tak henti akan sampai pada bidikan target mencapai tujuan

Target pelayanan Marturia di masa yang akan datang dicapai dengan berbagai cara. Ada gereja yang sudah menetapkan secara tertulis atau tidak tertulis karakteristik bermarturia. Ada yang bermarturia dengan membangun Gereja sebanyak mungkin. Karakteristik ber-marturia ada pada pembangunan gereja. Hal itu dimungkinkan karena perkembangan masyarakatnya sendiri untuk merantau dan bermukim di seluruh penjuru angin. Untuk target seperti ini mungkin terjadi sebaliknya, masyarakatnya yang difasilitasi untuk pindah ke penjuru-penjuru itu lalu membangun gereja di situ? Ada gereja yang bermarturia melalui penginjilan, dengan penginjilan sekaligus dengan mengembangkan kehidupan pokok jemaat seperti di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan, dengan metode ini semakin banyak orang percaya mengikut Yesus. Ada gereja yang menganut bahwa bermarturia merupakan sebuah proses berupa tahapan sejak penginjilan, pengembangan kehidupan pokok jemaat kemudian membangun gereja. Ada gereja yang menganut bahwa seseorang dapat menjadi pengikut Kristus bukan karena system pelayanan bermutu, karena bantuan-bantuannya, perbuatan-perbuatan baiknya, jumlah pengikut Kristus hanya boleh berkembang karena pekerjaan Roh Kudus. Target marturia masa depan harus senantiasa bersama Roh Kudus. Yang saya pelajari lagi bahwa ada ibadah sudah berada dalam tingkat pelayanan Roh, yaitu tingkat yang paling dalam (indeeply) setelah pelayanan tubuh dan pelayanan jiwa. Ada gereja yang masih dalam tingkat pelayanan tubuh (duniawi) dan jiwa (emosi), dan ini mengasikkan. Namun semua kebutuhan duniawi dan emosi itu hanya bersifat sementara.

Target Koinonia ke depan menciptakan at home beribadah di gereja masing-masing. Pengamatan menunjukkan bahwa anggota gereja yang selalu beribadah berpindah-pindah gereja hidupnya tidak baik karena selalu bimbang dan selalu ragu. Hal itu dimungkinkan oleh iman yang plin-plan, tidak memiliki ketegasan hidup. Di lain pihak hal yang membuat jemaat berpindah ke gereja lain bisa juga karena faktor kedekatan lokasi gereja, kedekatan hati pelayan, kemampuan gereja melayani berbagai kategorial sekolah minggu, remaja, taruna remaja dan pemuda, kaum bapa dan kaum ibu, lanjut usia secara bersahaja, serta pelayanan umum bermutu misalnya ibadah kebaktian yang hikmad, khotbah yang dinamis, persembahan musik yang menggugah, perkunjungan yang kontinu, sakramen yang kudus, dan administrasi yang modern dan transparan. Sementara ada gereja yang hari-harinya hanya bersoal tentang gaji, kesejahteraan pelayan dan anak, dana pembangunan, dana pelayanan rutin, dana transportasi, dana regional dan pusat, sehingga setiap saat harus mengadakan pesta sana pesta sini untuk menutupi pengeluaran tersebut. Hanya jemaat yang setia yang tinggal, selainnya pindah.

Target pelayanan Diakonia ialah dunia, semua manusia adalah ciptaan Tuhan, sehingga yang ditolong adalah semua orang, tidak hanya berpikir tentang kesehatan, kematian, sosial termasuk pendidikan dan kemasyarakatan jemaat setempat tetapi juga semua gereja lain setempat atau manusia beragama lain setempat atau di luarnya harus menjadi target. Mungkinkah gereja dengan etnis kecil saja diakonianya dapat menembus tatanan luar yang juga memiliki kemapanan organisasi lebih besar? Jawabnya, bahwa Itu adalah perintah Tuhan, eklesia, pergilah keseluruh ujung bumi. Etnis kecil demikian ternyata dijamin Tuhan dan diberi mandat menjadi pelayan di seluruh dunia dengan pesan agung itu, tidak hanya besar di kampungnya, hidup mati hanya sekitar-sekitar etnisnya, namun menjadi setara dunia.

D. PRODUCT & UNIQUE SELLING

Ada perbedaan produk pelayan gereja pada waktu yang lalu dengan yang sekarang. Sekarang belum tentu semua lulusan Sekolah Tinggi Teologia berkompeten untuk menjadi pelayan sebagai pendeta, sehingga dalam proses belajar mengajar tidak dikhususkan dengan bahan ajar untuk menjadi pendeta. Sekolah Tinggi Theologia memproduk lulusan untuk memiliki strata pengetahuan tentang teologia sesuai jurusannya, ada yang jurusan PAK, Konseling, Pekabaran Injil dan lain-lain. Lulusan STT di berbagai Perguruan Tinggi saling menunjukkan kelebihan satu dengan yang lain, misalnya lulusan dari STT Proklamasi 27 Jakarta beda mutu dengan lulusan STT Satia Wacana. Demikian juga Strata 2 dan Strata 3 masih berbeda antara lulusan Jerman dengan lulusan Amerika, Belanda, Filipina dan lainnya, dan rasa satu almamater juga boleh menjadi pengelompok utama dan mempengaruhi pengangkatan pemimpin pelayan di semua tingkat. Mungkin ini hanya image karena berbagai argumen umum saja, yang benar adalah sangat tergantung kepada branding position pelayan itu sendiri. Faktor lain yang mempengaruhi produk pelayan ialah modal yang dimiliki berupa sikap dan perilaku pelayanan, kapasitas pelayanan, potensi pribadi, pengalaman, rasa memiliki dan lain-lain.
Sikap dan perilaku pelayan, yang selalu tersenyum, ramah, memuaskan jemaat, akrab, kejelasan berbicara, memberi informasi luas dan cekatan, menjanjikan, menjadi contoh keberhasilan, tepat janji, tepat waktu, mekanisme pelayaan pendek, cepat dan berkualitas (service quality), bersifat pribadi, memberi perhatian secara individu, namun tegas dalam hal kebenaran, tidak pernah mengeluarkan kata-kata negatif “tidak” namun berusaha mengalihkan perhatian kepada hal yang positif saja, semuanya akan menjadi catatan khusus bagi jemaat dan menjadi diary yang tidak pernah terhapus dan performance pelayan tersebut. Berarti service quality di atas tidak hanya berlaku di atas altar atau dalam pertemuan resmi namun juga dalam direct services dan personal approach. Memang ada wajah pelayan etnis tertentu walaupun sudah tertawa, suka cita dan terbahak-bahak namun masih kelihatan marah, sulit merubahnya, sebaliknya dari etnis lain walaupun marah semarah-marahnya masih kelihatan ramah.

Kapasitas dan potensi pelayanan, juga menjadi modal bagi produk pelayan misalnya kemampuannya yang sukses menjadi promotor, fasilitator, narasumber, keynote speaker atau pembahas dalam seminar atau lokakarya tingkat lokal, regional atau nasional bahkan internasional. Potensi diri untuk menulis pada media harian, bulletin, majalah baik lokal, regional dan nasional, atau menulis buku-buku laris atau buku referensial juga menjadi modal pelayanan yang sangat bermutu.

Kemampuan berkhotbah, menjadi modal utama dalam selling-product pelayanan. Pada akhir khotbahnya selalu ada Firman atau nasehat yang melekat dibawa pulang oleh jemaat karena sangat menggugah dan menantang bahkan rindu bila dilanjutkan untuk dibahas pada kebaktian wilayah misalnya, dalam banyak pembicaraan atau argumentasi antar jemaat selalu membawa nama pendeta itu dan isi khotbahnya untuk menguatkan pendapatnya. Banyak khotbah yang enak menurut jemaat namun begitu kita tanya apanya yang enak, tidak seorangpun jemaat yang bisa menjawab isinya, paling yang enak menurutnya adalah gayanya, senyumnya, lembut suaranya, kumisnya, giginya, gantengnya atau lucunya. Mengenai selling (penjualan) yang disebut di atas bukanlah dalam arti unjuk kebolehan atau tawaran kualitas namun merupakan kebersahajaan karena potensi yang kuat dalam waktu, nilai, tempat, musim, mode, kepuasan, dan reputasi yang tepat. Respons dari selling yang tepat tidak cukup dengan datang ke gereja pada kebaktian berikutnya namun akan berlanjut dengan hubungan yang baik (relationship).
Pengalaman pelayanan, juga tidak kurang menjadi produk yang memposisikan (positioning) seorang pelayan. Ada pelayan yang pada setiap berada di satu tempat pelayanan pasti membangun sesuatu bangunan, atau pasti meresmikan sebuah gereja atau ressort dan harus yang terbaik tanpa permasalahan, dan ada yang sebaliknya tidak pernah membangun apapun.

Pengalaman membangun merupakan suatu tantangan pelayanan yang sangat indah. Dalam catatan sejarah gereja umumnya dan gereja setempat khususnya nama tersebut selalu muncul dalam pasal-pasal editorialnya. Dalam hal positioning, tidak harus dianggap sebagai suatu ambisi yang berlebihan, bahkan merupakan suatu hal yang sangat penting (importance), memposisikan diri demi pelayanan masa depan yang lebih baik, menunjukkan kebersahajaan berbasis potensi. Segala metode harus dipenuhi untuk menjadi posisi unik, bahkan bila perlu tahu diri, perbaikan diri, sadar akan kekurangan, tanggap masa depan, tingkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan jemaat, memposisikan diri sebagai terdepan dibandingkan dengan pelayan lainnya, kehadirannya penting atau pengikut saja (destroyer atau follower).

Pengalaman sukses dan berwibawa, melayani di desa terpencil, dipedesaan, diperkotaan dan di kota besar merupakan kebanggaan pelayan dan menjadi merek (branding) yang diberikan jemaat dan sesama pelayan atau dunia luar kepadanya. Jemaat di perantauan selalu bertanya siapa dan bagaimana pelayan yang ada di gereja di kampungnya, mendengar berita dari keluarganya akan turut memberikan cap (branding) kepadanya. Pengalaman sukses dan leading menyelesaikan konflik gereja setempat, resort, distrik dan pusat, leading mengatasi konflik masyarakat bersama kepala kampung, lurah, camat, pemerintah daerah, dapat diandalkan (service reliable) menyelesaikan konflik nasional bersama pemerintah provinsi atau pusat merupakan sebuah nama besar dalam sejarah gereja dan pemerintahan. Branding juga bukan hal negatif yang dibuat-buat oleh pelayan. Merek pelayan datang dari sebutan dan image serta pengistimewaan orang luar kepadanya secara gamblang, pelayan sejenis yang selalu dicari karena lain dari yang lain, yang selalu dibicarakan dari mulut ke mulut, darinya ada kepuasan yang sesuai dengan kebutuhan jemaat.

Rasa memiliki (sence of belonging), menjadi sangat penting sebagai faktor produk. Seorang pelayan ada yang betul-betul merasakan bahwa dimanapun ia melayani merasakan bahwa gereja atau lembaga itu adalah miliknya sehingga seluruh potensi yang ada padanya dicurahkan dengan penuh tanggung jawab. Dan ini merupakan harga (price) yang harus dibayar mahal. Biasanya penolakan dan penerimaan jemaat kepada pelayan sangat tergantung dari price/pricing, dari kebersahajaan, dari nilai yaitu rasio dari apa yang diamati jemaat secara rohani dibanding dengan harga yang dipersembahkan. Sebaliknya ada pelayan seolah-olah hanya menunggu hingga kapan dipindahkan, yang penting aman walaupun tidak memiliki sence of belonging, tidak perlu ada sence of participation dan tidak merasa perlu memiliki rasa bertanggung jawab (sence of responsibility), kerjanya hanya berkhotbah dan syukur bila ada sermon serta pelayanan seremonial selama sekian tahun.

E. PLACEMENT (PENEMPATAN) PELAYAN

Penempatan seorang pelayan di suatu tempat harus dilihat sebagai suruhan Tuhan. Kemanapun seseorang pelayan di tempatkan tetap memunculkan kapasitasnya yang asli, potensi yang ada padanya, kesukaan jemaat padanya, kesukaan Tuhan kepadanya dalam menyampaikan suara kenabian di tengah jemaat yang dilayani.
Pelayanan di Desa Tertinggal dan Penginjilan Awal (Zending), sebenarnya justru memerlukan pelayan khusus untuk pengembagan ekonomi, namun yang dikirim kesana biasanya mereka yang memiliki standar pas-pasan. Alangkah baik pabila juga ditempatkan pelayan ahli yang dapat mendampingi pelayan-pelayan di desa tertinggal dan daerah zending untuk memajukan desa itu, sehingga tidak ada anggapan bahwa pelayan yang ditempatkan di sana sebagai pelayan terhukum. Satu hal lagi, perlu penggajian khusus yang memiliki tunjangan kemahalan khusus melebihi gaji pelayan yang ada di pedesaan. Terserah apakah tunjangan seperti itu boleh diambil setelah tugas pelayanan berakhir atau seperti biasa bersamaan dengan penerimaan gajinya.

Peta pelayanan di Pedesaan, sebenarnya merupakan basis pelayanan bagi pelayan pemula. Disini masih ditemukan keaslian perilaku jemaat, homogen, mudah diatur, mudah menerima khotbah, walaupun sudah agak mulai kritis terutama bila dikaitkan dengan uang. Banyak pelayan yang menerima gaji di pedesaan tidak sesuai dengan plafon gaji yang tertulis dalam SK kepangkatannya. Namun bagi pelayan lain dengan bermodalkan pendekatan dan persaudaraan, pergaulan serta transparansi boleh memperoleh lebih dari ketetapan yang harus diterima. Biasanya penderitaan dan sukses pelayan di desa tertinggal dan penginjilan akan menjadi catatan pribadi yang sangat dahsyat pada pelayanan masa depan.

Di Perkotaan, sudah mulai banyak masalah. Kantor Distrik selalu kedatangan tamu secara bergantian antara kelompok jemaat satu dengan kelompok musuhnya. Ada yang dibecking orang kaya, ada yang mengandalkan tentara, ada yang membawa-bawa nama pejabat di Jakarta. Pelayan yang berpengalaman dapat menyelesaikan semuanya dengan wibawa yang ada padanya membuat mereka sama-sama menang tanpa ada yang merasa kalah. Pelayan seperti ini biasanya ahli dalam mendelegasikan tugas kepada aparat di bawahnya untuk lebih dahulu mengamati dan mengetahui akar permasalahan, ahli dalam mengalihkan permasalahan kepada kegiatan positif, dan selalu menggunakan standar praktis dan memberi pelayanan yang sekaligus menjawab (service recovery) serta ahli mengkaitkan permasalahan kepada kebenaran Firman Tuhan.

Kota Besar, menjadi harapan banyak pelayan, seandainya ada peluang menjadi pelayan di kota besar, bagi sebagian pelayan hal itu menjadi sejarah yang luar biasa penting bagi hidupnya. Hal seperti itu bisa terjadi karena gereja-gereja di kota besar berlomba menjadi yang terbaik melayani pendetanya. Gajinyapun 2 hingga 3 kali SK kepangkatan dari pusat bahkan lebih. Sebuah gereja mapan merasa malu apabila tidak mampu menyediakan kendaraan roda 4 bagi pendetanya baik kendaraan pribadi ataupun kendaraan inventaris. Pendeta yang masih muda memiliki kesempatan untuk melanjutkan sekolah pada perguruan tinggi yang tersebar luas di kota besar, paling tidak anak-anaknya berpeluang besar untuk sekolah pada sekolah unggulan dan perguruan tinggi terbaik. Walaupun tidak semua pelayan setuju dengan pendapat di atas, dan tidak mau melayani di kota besar namun itulah kenyataan umum yang ditawarkan oleh gereja kota besar, dengan catatan bahwa di kota besarpun masih ada gereja berada setingkat peta pelayanan perkotaan bahkan pedesaan. Sebut saja pembagian kota besar menjadi ring 1 untuk gereja kota besar yang benar-benar mapan, ring 2 untuk gereja kota besar yang sedang berkembang, dan ring 3 untuk gereja kota besar yang baru membangun atau pinggir kota.
Pelayanan di kota besar adalah pelayanan pemberdayaan (empowerment). Dibutuhkan kemampuan memberdayakan jemaat yang pada umumnya memiliki kemampuan lebih, melebihi kemampuan pelayan dalam segala jurusan. Mau menyelenggarakan konperensi, seminar, lokakarya, mau bangun bisnis gereja, mau bangun gedung Sekolah Minggu, kantor gereja atau rumah pendeta, kantor regirnal, atau pos kesehatan, atau sekolah, pelayan yang cukup bersahaja dapat memberdayakan potensi jemaat yang ada. Bicara pemberdayaan berarti bicara tentang konsep dan program yang ditawarkan. Biasanya konsep dan program yang jelas dan cemerlang langsung ditangkap oleh jemaat yang terpilih dan berpotensi mengembangkannya.

Jemaat di kota besar sangat bangga apabila melalui tangan pelayan dapat dihantar pada pelaksanaan sukses sebuah event. Susahnya bila ada pelayan yang selalu mendahulukan konsep pribadinya untuk dilaksanakan, walaupun bisa berjalan dengan terpaksa, pasti akan meninggalkan bekas yang fatal.

Pada peta pelayanan Perkotaan dan Kota Besar, terdapat masalah yang memerlukan solusi segera yaitu tentang tingginya perpindahan warga jemaat terutama yang belum memiliki rumah tetap, baik berpindah masih di sekitar gerejanya, pindah ke wilayah gereja lain atau ke wilayah yang tidak jelas wilayah gereja mana seperti ke perumahan RSS atau Perumnas atau Estat dan yang paling baru ialah kesukaan jemaat menghuni apartemen. Yang terjadi ialah bahwa sekte lain langsung menangkap warga gereja dan melayani mereka. Solusinya ialah perlu ditempatkan pelayan khusus untuk melayani mereka yang berinduk atau diperbantukan dari gereja terdekat. Mereka belum memiliki gereja, namun keanggotaan dan pelayanan untuk mereka dibutuhkan dari gereja induk, bila perlu difasilitasi dengan “mobile church service – mcs” untuk sama-sama beribadah ke gereja induk terdekat dengan menggunakan mobil setiap minggu atau pada hari-hari besar gereja menunggu terbangunnya tempat ibadah atau diperbolehkan beribadah di rumah atau di gedung yang tersedia.

F. NETWORKING (KEMITRAAN)

Kebesaran gereja sangat didukung oleh lembaga-lembaga sosial sejenis, usaha dan pendidikan pelatihan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Networking (kemitraan) dengan gereja-gereja dan sekte-sekte yang ada selalu terpelihara, dengan prinsip: “bergabung pada saat hal-hal yang boleh bergabung dan berpisah dalam hal yang masih dalam perbedaan”. Bahkan pelayan-pelayan gereja itu akan selalu didaulat menjadi pengurus pada lembaga agama Kristen di tingkat intrnasional, nasional, regional dan Badan Kerjasama Gereja setempat. Kehadiran tokoh-tokoh gereja dalam pemerintahan dan legislatif baik secara pribadi maupun basis institusi bukan hal yang baru dan masih akan berlanjut pada masa-masa yang akan datang. Networking dengan mitra non Kristen juga selalu dipupuk. Melalui kemitraan di dalam dan di luar negeri banyak permasalahan gereja terselesaikan baik di tingkat nasional, regional dan lokal.

Yang sangat dibutuhkan selain kemitraan dengan lembaga sejenis di atas ialah kemitraan usaha (business networking) terutama dalam rangka memanfaatkan potensi gereja baik assetnya yang besar, jemaatnya yang dinamis serta unique selling yang demikian mengagumkan. Pendekatan pertama yang dilakukan berupa pendekatan institutional yaitu dengan membentuk badan usaha gereja. Langkah ini harus dilanjutkan dengan upaya kemitraan dengan badan usaha tingkat lokal (jemaat sendiri), tingkat nasional (jemaat sendiri atau orang luar/badan luar) bahkan tingkat internasional (jemaat sendiri atau orang luar/badan luar). Umumnya penduduk Indonesia adalah agraris, potensi demikian sangat mengakar dan perlu ditumbuhkembangkan melalui badan usaha gereja, termasuk di dalamnya usaha di bidang perkebunan, perikanan dan peternakan. Potensi lain dengan menjual alam yang indah melalui industri pariwisata rohani termasuk perhotelan, transportasi, pemanduan dan traveling. Potensi jemaat sendiri dalam bidang usaha perlu dikembangkan dengan bisnis pendukung seperti pasar, perbankan, credit union, koperasi, percetakan, media cetak dan elektronik, pendidikan formal/ non formal dan lain-lain. Semuanya dilakukan demi kemaslahatan anggota jemaat dan pengembangan gereja.

Kemitraan lain ialah kemitraan pendidikan dan pelatihan (Diklat) yaitu mengkaderkan jemaat dan pelayan melanjutkan pendidikan S1, S2, S3 di dalam dan luar negeri dalam segala bidang yang dibutuhkan, atau menjadi pelaku keterampilan handal (pendidikan non formal) untuk kerumahtanggaan, industri rumah tangga (home industry), industri kecil, bahasa, teknik mekanik dan elektrik, computer, koperasi (credit union), manajemen, asuransi, perbankan, penginjilan, konselor, media dan lain-lain.

Siapa yang berhak direkrut untuk masuk dalam kemitraan Diklat? Sudah tentu gereja harus mempersiapkan mekanisme dan lembaga yang fungsional. Setiap pelayan sudah memiliki laporan pelayanan tahunan melalui “standar pelayanan minimal-spm” yang dibuat sendiri oleh pelayan, dan “daftar penilaian pelaksanaan pelayanan” (DP3-conduite-staadts) oleh pimpinan di atasnya. Kemudian para pelayan dilatih secara lokal di tingkat pusat dalam periode setiap tahun dan berdasarkan hasil pelatihan ditambah dengan SPM dan DP3, lalu diseleksi dan diranking sesuai dengan bakat, minat, potensi dan kemauannya dan diketemukan calon-calon pelayan yang harus dikaderkan lebih dahulu untuk berbagai jenis kelulusan dan keterampilan. Rangking 1 sampai dengan 10 berhak untuk dilatih oleh mitra di dalam atau luar negeri. Dengan mekanisme itu mereka memperoleh jaminan yang kuat untuk mengembangkan jurusan dan keterampilan yang dimiliki di berbagai lokasi pelayanan yang membutuhkan. Gereja akan jauh dari tuduhan “like and dislike” dalam menempatkan pelayan-pelayannya.

Untuk itu, dalam pelaksanaan sehari-hari diperlukan job description yang jelas antara pusat, regional dan gereja front liner. Pusat mempersiapkan nara sumber dan untuk melatih pelatih di tingkat regional, regional mempersiapkan pelatih untuk melatih kader di tingkat gereja, dan para pelatih ini melatih jemaat sesuai dengan jurusannya. Yang justru banyak kita perhatikan bahwa pusat dan regional juga melatih peserta jemaat dari gereja dan front liner sehingga fungsi regional dan gereja sendiri menjadi tidak jelas.

G. KESIMPULAN

Bahwa pemimpin gereja masa depan ialah mereka yang sudah peduli dan berjiwa modern di bidang internet-website baik untuk keperluan informasi perkembangan administrasi gereja maupun untuk pelayanan. Diperlukan pelayan yang memiliki kapasitas, potensi, posisi diri dan merek secara berkualitas yang mampu berpenetrasi, berdifferensiasi, mampu mengembalikan gereja menjadi unique selling dengan karakteristik berbasis visi yang sangat membanggakan di seluruh peta pelayanan, dan mampu menjadi partner pemerintah dalam proses solusi atas permasalahan setempat. Sebuah sajak: Banyak pelayan yang berhasil, merenung, pabila saya diperhadapkan pada rapat jemaat, mendengarkan ocehan-ocehan, saya berkesimpulan bahwa pelayanan saya di mata mereka tidak ada apa-apanya, rasanya percuma semua, tidak ada yang tersisa di benak mereka. Begitu saya kembali ke rumah, duduk terhempas, melipat tangan di meja persiapan, saya menangis, saat itu Yesus sahabatku tersenyum membelai kedua lipatan tangan di bawah dahiku, aku bersandar, kulihat gambar Yesus tersalib di depanku, bilur di dadaNya masih terbuka segar, darahnya bercampur keringatku, senyumku, marahku, khotbahku, pergumulanku, kehinaanku. Yesus berkata: “Aku yang menerima segala pelayananmu”. dan

KEPUSTAKAAN

Rick Warren, 1995. “The Purpose Church.” Grand Rapids, Michigan

Rick Warren, 2002. “The Purpose-Driven ® Life.” Grand Rapids, Michigan

Sitompul, A.A., 2005. “Sitotas Nambur Hakristenon Di Tano Batak.” Dian Utama, Jakarta

Osborne David dan Ted Gaebler, 1999. “Reinventing Government: how the entrepreneurial spirit is transforming the public sector”, terj. Abdul Rosyid “Mewirausahakan Birokrasi”. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta

Covey, Steven, R., 1997. “7 Habits of Highly Effective People”, alih bahasa Budjanto, Drs, ed. rev. “7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif”, Binarupa Aksara, Jakarta

Bruno Solnik, 1993. “International Investments” 2nd. ed. Addison-Wesley Publishing Company, Reading, Massachusetts

Thoha Miftah, 1993. “Perilaku Organisasi” cet. Ke-6, Raja Grafindo Persada, Jakarta

ore–>


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: