Posted by: todung | 28 April 2008

DIAKONIA INKLUSIF (Diakonia Untuk Semua)

 

 

      Manusia sama satu dengan yang lainnya, hanya dibedakan oleh ukuran-ukuran yang ada dalam pikiran manusia kepada manusia lainnya. Manusia sama-sama memiliki organ tubuh mata, mulut, telinga, kulit, hidung, sama-sama punya hati, perasaan dan jiwa. Punya hasrat, keinginan, kebutuhan,  dan punya cita-cita.

Manusia kadang-kadang berada dalam ukuran-ukuran tertentu, ada yang kaya, bisa kaya dalam jangka waktu singkat, ada juga sampai jangka waktu yang lama hingga tujuh turunan, namun ada yang tidak pernah sampai ke titik itu bahkan selama hidupnya bahkan generasi keluarga sesudah dia memiliki kesengsaraan tersendiri. menurut ukuran orang lain, walaupun menurut ukurannya keadaan seperti itu suatu hal yang biasa, bukan merupakan kesengsaraan.

Secara alami dalam proses waktu bisa saja keadaan manusia berubah. Yang kaya secara perlahan atau tiba-tiba atau seturut dengan pergantian generasi bisa jatuh dalam kemiskinan. Sebaliknya yang miskin bisa menjadi kaya secara perlahan atau kaya raya mendadak atau harus menunggu generasi berikutnya untuk menjadi kaya. “Hidup bagaikan roda pedati, kadang di atas, terkadang di bawah”.

Dalam keadaan tidak seimbang, ada yang di atas ada di bawah, maka dengan berdiakonia manusia itu tetap berada dalam keseimbangan yang wajar selama hidupnya,. Walau pun faktanya ia sudah berada pada keadaan puncak tetapi tidak merasa berada dalam puncak, dan walau berada dalam keadaan di bawah, ia merasakan kehidupan yang wajar-wajar saja.

Ketidakseimbangan bisa menimbulkan benturan-benturan fisik dan psikis, bisa terjadi protes, demo, pencurian dan sampai kepada  bentuk peradilan. Kaum atas merasa terganggu atas tuntutan kaum bawah yang bersinggungan dengan mereka. Kaum bawah merasa tertindas, tidak berkeadilan karena keberbedaannya dengan kaum atas walaupun berada dalam suatu teritori yang sama akan tetapi harus berbeda status dalam menikmati potensi yang diberikan oleh teritori tersebut.

Berdiakonia juga menyeimbangkan keadaan sesama manusia agar berkesempatan menikmati keadaan yang baik bahkan berkelebihan, maka dengan tulus ikhlas manusia berpunya mampu dan mau memberikan sebagian miliknya kepada manusia lain yang tidak berpunya. Dengan pemberian itu mengangkat kaum bawah keluar dari ketertinggalan dan  keterpurukannya menjadi seimbang dengan yang lainnya.

Diakonia menanamkan rasa  kesesamaan antar umat manusia mengenal hakekat dasarnya sebagai manusia untuk saling bertolong-tolongan. Kesesamaan melihat manusia lain sebagai sesama manusia tidak dibatasi oleh bingkai-bingkai ras, agama, kelas atau status. Menanamkan rasa kesesamaan ini harus menjadi milik semua orang sejak dini usia, remaja, pemuda, orang tua hingga kakek nenek. Dapat disimpulkan bahwa berdiakonia bukan hanya dari orang berpunya ditujukan kepada orang orang tak berpunya tetapi sebaliknya dan bisa terjadi kepada semua orang. Perasaan seperti ini harus menjadi milik semua orang.

Menanamkan jiwa diakonia memerlukan wadah pembelajaran apakah melalui keteladanan, melalui media cetak dan elektronik atau melalui kegiatan lembaga/organisasi diakonia. Keteladanan bisa ditunjukkan oleh pemimpin pemerintahan, pemimpin agama, pemimpin budaya dan adat dan tokoh masyarakat.

Keteladanan bisa dibukukan dan disebarkan menjadi bahan pembelajaran reflektif, bisa berupa cerita bergambar, komik, novel, sajak, rubrik atau kolom atau naskah tidak tetap dalam koran atau majalah, atau melalui siaran radio, televisi, vcd, website, internet dan lain-lain. Di sini lagi peran lembaga diakonia memfasilitasi dan menerbitkan media yang mampu menembus bingkai-bingkai kepentingan untuk menumbuhkembangkan jiwa diakonia.

Lembaga diakonia mendekatkan manusia dengan manusia lain yang dalam keadaan tidak seimbang. Sehingga lembaga ini sebaiknya menggunakan  fasilitas yang dibutuhkan baik sebagai milik, pinjaman, sewa, atas nota kesepakatan atau nota kesepahaman (MoA/MoU), antara lain:

 

         lembaga sosial

         lembaga kesehatan

         lembaga pendidikan formal dan non formal

         lembaga media informasi

         lembaga usaha

         lembaga perhimpunan

         lembaga kemitraan

 

Kegiatan tersebut ada yang berorientasi nir laba ada juga berorientasi profit. Badan usaha berorientasi profit diperlukan untuk membantu silang kegiatan lembaga-lembaga diakonia yang memerlukan dana  tetapi lembaga tersebut tidak dapat memasukkan dana. Mari kita simak lingkup diakonia yang sudah seharusnya kita miliki:

 

1.      DIAKONIA UNTUK KESEHATAN  

2.      DIAKONIA UNTUK KOINONIA

3.      DIAKONIA UNTUK PENDUDUK  

4.      DIAKONIA UNTUK MARTURIA 

5.      DIAKONIA UNTUK LINGKUNGAN

6.      DIAKONIA UNTUK BATUAN SOSIAL

7.      DIAKONIA UNTUK BANTUAN KEMATIAN

8.      DIAKONIA UNTUK PERUSAHAAN 

9.      DIAKONIA UNTUK KERJA SAMA KELEMBAGAAN

10.  DIAKONIA PERSEMBAHAN

11. DIAKONIA UNTUK PENDIDIKAN 

12. DIAKONIA UNTUK INTELEKTUAL

13. DIAKONIA UNTUK BUDAYA & ADAT
14. DIAKONIA UNTUK MEDIA INFORMASI

 

                                                                                                             KETUA PERWAKILAN  DEPARTEMEN DIAKONIA HKBP

DI JABODETABEK

DALAM RANGKA SEMINAR DIAKONIA HKBP DISTRIK VIII JAWA KALIMANTAN,

DI HKBP KEBAYORAN LAMA, JL. PRAJA JAKARTA SELATAN

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: