Posted by: todung | 1 May 2008

PERJAMUAN KASIH BAGI YANG BELUM LEPAS SIDI

Perjamuan Kasih merupakan Perjamuan dengan menggunakan simbol-simbol buah untuk menunjukkan buah roh (Galatia 5, 22-23), yaitu Kasih, Suka Cita, Damai Sejahtera, Panjang Sabar, Kebaikan, Murah Hati, Kesetiaan, Lemah Lembut, Penguasaan Diri. Biasanya metode ini digunakan bagi anggota jemaat yang belum dan yang sudah sidi, sebagai perjamuan kudus yang hanya boleh diikuti oleh jemaat yang sudah sidi.
Selain itu perjamuan kasih didahului dengan sudah saling mengenal antar peserta, karena perjamuan ini baru bisa berjalan apabila masing-masing sudah saling mengenal secara mendalam, hasil pengenalan itulah menjadi penggerak hati seseorang mengambil buah simbol untuk diberikan kepada anggota lain. Apabila saya mengenal teman saya sebagai profil Panjang Sabar, maka saya mengambil buah yang terletak di atas meja yang bersimbol/ bertuliskan Panjang Sabar.
Buah sebagai simbol ditetapkan sembarang saja, syaratnya buah itu tidak rasa kecut, pilih yang manis dan lembut seperti pepaya, semangka, jeruk manis, melon, appel dan lain-lain. Besarnya buah dipotong-potong kecil cukup dimakan sekali masuk di mulut atau sebesar roti pada perjamuan kudus. Sebelum buah diberikan ke mulut teman, ia harus memberikan kata pengantar atau ayat Alkitab yang berkaitan dengan simbol yang dipilih untuknya. Misalnya: “Selama ini saya mengenal anda sebagai seorang pemberi Damai, berbahagialah kamu, Firman Tuhan berkata Berbahagialah orang yang …..Damai, karena…., Tuhan memberkati, Amin” Sebaiknya pengucapan ini dilatihkan. Kemudian buah disuapkan ke mulut teman, boleh dengan jari telanjang yang dipastikan bersih atau dengan sendok buah atau tusuk gigi yang disediakan panitia. Bisa dilanjutkan dengan saling merangkul sesama laki-laki atau saling mencium sesama perempuan.

Pada latihan persiapan banyak kesepakatan yang perlu diciptakan, misalnya mengucapkan kata pengantar sebelum memberikan buah harus dengan bahasa sopan, bahasa ibadah, bukan bahasa prokem/pasaran; tidak diperkenankan tertawa atau membuat kegaduhan. Formasi tempat berdiri diatur sedemikian rupa, sehingga seseorang berdiri dekat di kiri atau kanan kepada siapa dia akan memberikan simbol buah bila hal itu sudah direncanakan sebelumnya lengkap dengan simbol dan kata pengantar yang akan disampaikan. Namun bisa saja posisi berdiri tidak perlu diatur, siap saja secara acak boleh berdiri di sebelah kiri dan kanannya, sehingga seseorang baru akan memilih simbol buah dan mempersiapkan kata pengantar setelah melihat dan mempelajari secara cepat simbol buah roh yang akan diberikan kepada teman di sebelah kiri dan kanannya.
Pengaturan posisi meja ditetapkan di tengan sehingga peserta berdiri mengelilingi meja dan melihat dengan jelas petunjuk simbol dari semua arah. Tertib acara dipersiapkan sistematik, tidak bertele-tele, posisi berdiri pemimpin ditetapkan secara khusus.
Urutan memulai ditetapkan dari kiri kepada teman sebelah kanan atau sebaliknya, baru setelah teman di sebelah ujung selesai maka pemimpin memberi aba-aba bahwa gilirannya untuk berganti melayani teman berbalik arah. Terakhir diberikan kesempatan kepada mereka yang ingin memberikan simbol buah roh kepada teman yang lain secara khusus, mungkin kepada teman sekamar di asrama, teman sekuliah, teman yang pernah disakiti hatinya, atau kepada ayah atau guru yang kebetulan menjadi peserta.

(Setiap tahun acara Perjamuan Kasih ini dipergunakan Pelajar Sidi HKBP Depok II pada saat acara mengakhiri retreat dipimpin oleh Penulis sejak menjadi Pimpinan Jemaat (1986-1998; 2002-2008)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: