Posted by: todung | 25 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 10)

PARTAI DI INDONESIA CUKUP DUA HINGGA TIGA.

Sistem Multi Partai, Pilpres dan Pilkada memerlukan biaya besar dan membutuhkan pengorbanan yang dibebankan kepada negara dan rakyat. Demikian korelasinya dalam merusak rasa persatuan dalam komunitas budaya dan kekerabatan di tengah kehidupan masyarakat dan bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa; Partai harus berkualitas karena merupakan jiwa dan semangat berbangsa dan bernegara dalam keberagaman, tidak melukai hati anggota dan rakyat keseluruhan, bila tidak maka pemilihan akan dimenangkan oleh tokoh yang dibawa partai baru bahkan oleh pribadi independen.

Sistem multi partai, pilpres dan pilkada dan undang-undangnya perlu dipertimbangkan untuk dirubah, agar cukup 2 atau paling banyak 3 partai, juga khususnya dalam hal memasukkan diperbolekannya calon independen dipilih dalam pemilu atau pilkada.

Peran partai dalam kesadaran berpolitik belum dirasakan oleh rakyat, hanya diperlukan saat ada pemilihan belum sampai pada perjuangan idealisme partai itu sendiri. Dalam pemilihan langsung, konstentan pada prakteknya baru dalam tahap penentuan keberpihakan idealisme yang mewarnainya, sedikit kepada nama kandidat.

Dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 1999 tentang Partai politik, dibolehkan adanya multi partai. Kenyataannya, pelaksanaan multi partai itu memerlukan pengorbanan besar, mengakibatkan perseteruan dan penderitaan dimana-mana, merusak rasa persatuan dalam komunitas adat budaya dan kekerabatan yang lebih kecil. Ada kesan, seolah-olah pemilihan itu sama artinya dengan berkelahi, makan-makan, dapat uang, bermuka rangkap. Dan apabila hasil sudah diumumkan perkelahian dan demo kembali merebak umumnya dilakukan oleh pihak yang kalah mendemo Komisi Pemilihan Umum (Daerah) yang dianggap curang, dalam penghitungan suara berpihak kepada pemenang. Bisa terjadi lagi perkelahian bahkan kekerasan dan anarkhisme. Para konstentan yang terdiri dari masyarakat seadat, pengagum berbagai partai, terjadi pemisahan adat bahkan keluarga tidak berhubungan akibatnya.

Kesan makan-makan, dapat uang dan bermuka dua dalam pemilihan terbukti dari pelaksanaan kampanye di banyak tempat. Masing-masing partai mencari pendukung dengan menyelenggarakan makan bersama dan membagi-bagi uang (money politics). Masyarakat selama dalam kampanye terpaksa bermuka dua, terlatih dengan sendirinya sebagai pembohong, sebuah perilaku dan budaya baru akibat Pilpres dan Pilkada. Berbeda apabila hanya terdapat dua atau tiga partai, tidak banyak orang dan kelompok partai yang dibohongi

Cukup 2 atau 3 partai saja, hanya membedakan idealisme pembangunan masyarakat/sosial (Partai Sosial Nasional) dan idealisme pembangunan negara (Partai Nasional atau Partai Republik). Bila harus 3 partai maka ditambah sebagai penengah dengan idealisme pembangunan pekerja (Partai Buruh dan Karyawan). Sebaiknya tidak ada partai agama karena suara agama telah termasuk ada dalam kedua atau ketiga partai itu.

Bila dua atau tiga partai saja, tidak terlalu banyak kepentingan di DPR/DPRD, pengambilan keputusan dalam forum berjalan simple dan berkualitas. Idelisme partai akan lebih tersosialisasi dan menjadi pilihan masyarakat. Memang kesan negatif bahwa dalam sidang pleno anggota banyak ngantuk karena terlalu mengandalkan pikiran pimpinan fraksi. Untuk lebih berkualitas maka anggota partai dalam DPR/DPRD perlu melalui fit and proper test, selama menjadi anggota DPR/DPRD tidak melakukan kegiatan bisnis, karena sebagai anggota DPR segala keperluan dan fasilitas hidupnya tercukupkan baik melalui anggaran nasional mau pun daerah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: