Posted by: todung | 25 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 2)

Ayat 2.

WAJIB MEMPERTAHANKAN PANCASILA, UNDANG-UNDANG DASAR 1945 DAN SUMPAH PEMUDA

Saya mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, mempertahankan UUD 1945, mempertahankan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa yaitu Indonesia, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia; Jiwa dan upaya separatisme harus diganti menjadi semangat nasionalisme yang kuat.

Saya tidak membiarkan adanya bangsa dan negara di dalam bangsa dan negara Indonesia, saya tidak akan membiarkan negara menjadi abu-abu karena dasar negara warna abu-abu. Walaupun rakyat sudah terbawa abu-abu dan menginginkan serta menetapkan lain dengan rekayasa politik menggantikannya dengan ideologi, kepentingan dan bentuk negara dan dasar negara lain, saya tidak akan pernah menyetujui.

Seluruh rakyat mulai dari provinsi Nangro Aceh Darussalam hingga Papua memiliki pengetahuan, keterampilan menjelaskan, sikap serta kreasi dasar dan kebanggaan nasionalisme sebagai rakyat bangsa dan negara Indonesia. Untuk itu pelajaran tentang nasionalisme sejak dari sekolah yang paling rendah sejak dini hingga yang tertinggi, baik formal mau pun non formal bahkan informal harus dimantapkan secara berkesinambungan.

Pendekatan sebangsa dan informasi yang komprehensif selalu diberikan kepada tokoh dan kelompok yang bergerak di dalam dan luar negeri yang berkeinginan untuk memisah dari NKRI. Perjanjian yang mengikat harus selalu dihindarkan.

Pancasila yang lahir dua bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, bulan Juni tahun 1945, dijadikan sebagai dasar negara Republik Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, Pancasila menuntun pelaksanaan negara sebagai bangsa yang berketuhanan, beradab, berpersatuan, bermusyawarah mufakat dan berkeadilan. Pancasila merupakan kristalisasi peradaban budaya dari seluruh komponen bangsa yang sudah berproses ratusan bahkan ribuan tahun yang kemudian disebut sebagai bangsa Indonesia.

Untuk itu seluruh organisasi di dalam Negara menetapkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasannya. Kita jangan abaikan kemajemukan dan jangan menjadi anti kemajemukan. Kita pertahankan Pancasila sebagai dasar negara, karena Pancasila merupakan sublimasi pandangan hidup dan nilai-nilai budaya, pemersatu bangsa yang menyatukan masyarakat dari segala bentuk keberagaman suku, ras, daerah, bahasa, agama, pulau, kulit dan aneka pluralisme yang ada.

Undang-undang Dasar (UUD) tahun 1945 diakui oleh dunia termasuk sebuah undang-undang dasar yang sangat fleksibel. Namun pada jaman reformasi UUD 1945 sudah amandemen ke-4 kalinya dalam kurun waktu 1999-2002. Bapak Amandemen Amin Rais. Amandemen berlangsung pada saat kondisi negara terpuruk, koruptif dan terdapat banyak kepentingan. Sebenarnya tidak layak merubah fundasi negara dalam keadaan terpuruk seperti itu, perlu kehati-hatian. UUD sefleksibel itu tidak perlu diamandemen, cukup disempurnakan atau ditambah dengan perundang-undangan di bawah UUD.

Amandemen pertama tentang perubahan kedaulatan rakyat dulu dijelmakan kepada MPR, sekarang langsung dilaksanakan sendiri oleh rakyat (Pasal 1); Kedua, mempertegas negara hukum (Pasal 1 ayat 3); Ketiga, Meniadakan kata “asli” dalam syarat sebagai Presiden dan Wakil Presiden (Pasal 6); Keempat, pemilihan langsung pada satu pasangan Presiden dan Wakil Presiden; Kelima, penambahan sepuluh pasal tentang HAM dalam UUD 1945 (Pasal 28A sampai dengan 28J). Sebenarnya semua hal amandemen di atas cukup diundangkan dalam Undang-Undang memperjelas pasal induknya.

Presiden Soekarno pernah mengembalikan kepada wakil rakyat dalam Konstituante waktu itu agar membentuk UUD yang baru, namun ternyata wakil rakyat tidak mampu menyelesaikan tugasnya, sehingga keluarlah Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 (Keppres 150/1959) untuk kembali kepada UUD 1945, salah satu bukti keampuhan UUD 1945 hingga sekarang.

Ingat “Soempah Pemoeda”, ingat Jong Sumatera, Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Batak dan lainnya, turun dari gunung dan dusun berkumpul tanggal 28 Oktober 1928 bersatu padu mengumandangkan rasa kebersatuan bertanah air satu: Tanah Air Indonesia; berbangsa satu: Bangsa Indonesia; berbahasa satu: Bahasa Indonesia. Sumpah pemuda merupakan sumpah setia hasil kerapatan pemuda-pemudi Indonesia yang disebut sebagai Kongres Pemuda II dan merupakan hari keramat bagi bangsa Indonesia karena salah satu faktor keberhasilan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Jiwa Sumpah Pemuda sangat relevan untuk dijadikan cermin pembentukan pemimpin bangsa Indonesia sepanjang masa. Demi Sumpah Pemuda sebenarnya sebuah Departemen yang dipimpin oleh seorang Menteri dibutuhkan untuk mengisi dan melanjutkan perjuangan Pemuda menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan berwibawa di seluruh dunia.

Ada stasion TV swasta yang mengisi acara khusus dengan bahasa cina, perlu dipertanyakan, bukankah lebih baik bahasa Aceh atau bahasa Jawa atau bahasa Papua? Bila itu terkait bisnis global, perlu kiranya dipertimbangkan agar bisnis jangan merusak Sumpah Pemuda. Gunakanlah Bahasa Indonesia dengan baik dan benar dari Pidato presiden tertulis mau pun lisan, hingga tontonan sinetron setia menggunakan bahasa Indonesia. Pertahankan Sumpah Pemuda hingga tetes darah terakhir. (dari:63 Ayat Dasar Seandainya Saya Jadi Presiden, 2008)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: