Posted by: todung | 25 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 3)

Ayat 3:

MENJADIKAN NEGARA INDONESIA NEGARA BESAR MERUPAKAN CITA-CITA LUHUR.

Saya jadikan Negara Indonesia menjadi negara besar dan bermartabat di dunia yang tidak perlu tergantung atau jadi tukang minta-minta kepada negara lain;

Karena saya selalu sadar akan kekayaan Indonesia yang maha dahsyat cukup dikelola untuk kepentingan rakyat, dan ini bukan isapan jempol; walaupun sekiranya warga dicuci otaknya untuk mau melepas bagian wilayah NKRI yang kaya seperti Aceh, Riau, Nunukan, Bali, Ambon, Papua dan wilayah kaya lainnya, tidak akan pernah saya setujui karena justru disana juga sama-sama dengan pulau yang lain negara ini demikian dahsyat dan bermartabat, terlalu sangat cukup membawa negara Indonesia menjadi negara besar

Indonesia sangat luas. Terdiri dari wilayah lautan dengan 13.667 pulau besar dan pulau kecil, diperkirakan kurang lebih 3.000 pulau di antaranya dihuni penduduk. Luas seluruh pulau diperkirakan 735.000 mil persegi, sedang luas lautan antara 3 hingga 4 kali luas pulau. Jarak antara ujung barat ke ujung timur kira-kira 3.200 mil dan dari ujung utara ke ujung selatan sepanjang kira-kira 1.100 mil. Letak geografis Indonesia sangat strategis di tengah-tengah jalur lalu lintas silang dunia. Berada di tengah Benua Asia di sebelah utara, benua Australia di sebelah selatan, Samudera Indonesia di sebelah barat dan Samudera Pasifik di sebelah timur. Jumlah penduduk besar, terbesar di dunia setelah Cina dan India, sebanyak 230 juta jiwa. Potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia demikian dahsyat harus diberdayakan secara berkualitas untuk maju menjadi bangsa dan negara besar.

Hasil kekayaan Indonesia dari migas dan non migas sangat mengagumkan termasuk sumber mineral, nabati (flora), hewani (fauna). Minyak bumi, batubara,timah putih, timah hitam, besi, emas, perak, platina, tembaga, kuningan, nikel, bauksit, air raksa, mangan, uranium, gas bumi, gas alam berlimpah. Demikian pula keagungan pariwisata dan kekayaan hasil laut belum dikelola dengan penuh. Semua memerlukan tenaga ahli untuk mengelolanya dengan modern untuk menjadi bangsa dan negara yang besar.

Defenisi bangsa dan negara besar juga harus dikaji lebih dalam, karena tidak ada gunanya menjadi bangsa dan negara yang besar bila rakyatnya miskin, penyakitan, tidak berpendidikan, terjadi pengangguran, tidak ada pemerataan; hutan-hutan dikelola namun terjadi penggundulan, flora dan fauna yang dilindungi menjadi musnah; lautan luas dan udara produktif namun lingkungannya tidak asri; potensi perdagangan dan industri dikelola namun ekonominya terpuruk; adat dan budayanya teradopsi dan terserap namun tidak lestari dan terjadi pergantian kulit (genocide), perilaku agama dan norma kehidupan kuat namun tidak disiplin dan koruptif (tukang curi uang negara banyak tak terkendali); Komunikasi dan Informasi berjalan namun berada dalam dikte negara luar dalam segi ekonomi, keuangan, politik dan hukum. Ekspor hasil migas dan non migas meluap namun tidak sebanding dengan impor bahkan merugi. Negara berjalan dengan anggarannya namun pinjaman luar negeri menambah hutang rakyat.

Menjadi bangsa dan negara yang besar sudah harus dimulai sejak dini artinya dalam kedinian kondisi sekarang seluruh bangsa sudah mulai berperilaku sebagai bangsa dan negara besar. Pernyataan seperti ini harus dimulai dari sikap perilaku diikuti oleh pengadaan sarana dan prasarana yang memadai, baik sarana dan prasarana di darat, udara mau pun di lautan. Perilaku rakyat sebagai Negara yang selama-lamanya menjadi bekas rakyat terjajah, rakyat yang selalu manut, rakyat yang selalu merasa pas untuk miskin, selalu merasa pas untuk bodoh, selalu merasa pas untuk penyakitan harus segera ditinggalkan.

Wilayah Indonesia sungguh luas, sumber daya alam di darat, laut dan udara sungguh potensial, sumber daya manusia sungguh berpeluang dan cukup pantas dan layak disamakan dengan negara besar lain seperti Cina, Amerika Serikat, Australia bahkan Eropah, bila semua potensi kelautan, pertanian, perkebunan, perindustrian serta pertambangan dikembangkan dan dikelola dengan penuh keahlian dan profesionalitas.

Tugas negarawan, teknokrat dan para ahli dewasa ini menciptakan Indonesia ini menjadi negara besar dan berlangsung ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun yang akan datang, sewaktu jasad sudah menjadi abu. Nama Abdul Rachman, Husein Onn, Benneth Silalahi menjadi sangat terkenal di Malaysia karena beliau-beliau lah yang menciptakan formula dasar pendidikan pada awal Malaysia merdeka, sehingga hasilnya seperti kita lihat dan dikagumi dunia dewasa ini.

Kepahlawanan sebagian besar tokoh besar negara ini sebenarnya sudah memulai akan menjadikan negara ini menjadi negara besar, terbukti dengan sejarah besar terjadi disini seperti Konferensi Asia Afrika tahun 1955, partisipasi utama dalam Gerakan Non Blok tahun 1960, Ganefo (games of the new emerging forces) tahun 1962, selanjutnya motor utama dalam pembentukan Asean (Association of Southeast Asian Nations).

Dewasa ini ada kecenderungan ketergantungan kebijakan nasional kepada permainan regional dan internasional seperti APEC, ASEAN, AFTA, dan lain-lain yang mengikat, ini bahaya. Negara seolah-olah tidak pernah lagi membicarakan potret rakyat dengan segala potensi dan kendala dalam kehidupannya. Perhatian utama negara sudah beralih kepada ekonomi dunia dan regional, perdagangan dunia dan regional, politik dunia dan regionalnya, takut investor tidak datang, takut dikucilkan dalam percaturan dunia sehingga tidak ada waktu untuk rakyat. (DARI BUKU: 63 AYAT DASAR SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN, 2008)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: