Posted by: todung | 25 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 4)

Ayat 4:

HAPUSKAN DISKRIMINASI

DAN MONOPOLI

Diskriminasi dan monopoli di segala bidang dan sektor serta rekayasa prediksi kepentingan sara dari luar dan dari dalam atau kerja sama keduanya harus dihapuskan, dalam konteks Indonesia is Indonesia;

Walaupun kepentingan sara dari luar dan atau dari dalam negeri begitu dominan terutama di bidang rekayasa politik sosial dan politik ekonomi khususnya yang berakibat pada hilangnya kekayaan alam dan ekonomi rakyat, tidak akan saya biarkan mendikte karakter dasar dan karakter positif NKRI yang berkesinambungan yang terbangun dan yang akan terbangun di negeri ini;

Monopoli pasar tidak diperbolehkan, mall dan mart hanya berada sampai di perkotaan (ibu kota kabupaten kota), tingkat pasar tradisional harus dikembangkan, produk keterampilan masyarakat dikembangkan dan harus dapat dipasarkan secara bermartabat.

Kepelbagaian, keanekaragaman, perbedaan dipercaya orang beragama sebagai ciptaan Tuhan. Tuhan menciptakan kekayaan alam dengan aneka ragam perbedaan. Perkembangan yang sangat alami ialah bahwa kelompok sejenis boleh menjadi sangat besar, sangat kaya, sangat pintar, sangat kuat, sangat wah dibandingkan dengan kelompok yang sama namun dengan kulit, asal, suku dan agama yang berbeda. Suku, asal, kulit dan agama yang besar, kaya, pintar, kuat, bila tidak diatur dengan baik bisa memberi peluang akan terjadinya diskriminasi dan monopoli.

Diskriminasi merupakan pelayanan yang tidak adil terhadap individu atau kelompok, bukan hanya kepada kelompok ras atau kelompok minoritas tertentu namun juga sangat jelas kelihatan kepada orang miskin, sehingga orang miskin dijadikan tameng untuk memperoleh bantuan yang lebih besar dari kelompok donasi baik di dalam dan luar negeri.

Bisa terjadi diskriminasi penempatan tenaga kerja, perolehan pekerjaan, pembagian hasil pekerjaan serta kelulusan masuk ke Perguruan Tinggi Negeri secara proporsional. Arogansi putra daerah, pemerataan pembangunan perumahan, pengutamaan dan perjuangan untuk kepentingan sendiri, semua menjadi benih diskriminasi dan monopoli.

Pengawasan terhadap monopoli dan diskriminasi harus diperketat dengan undang-undang, sehingga siapa yang terbukti melawannya demi hukum dapat diseret ke pengadilan. Jangan sampai bisnis permobilan, permotoran, perbankan, perdagangan, mall, mart, ekspor impor, perhotelan, pariwisata, transportasi dan kegiatan publik seperti rekrut pegawai negeri, kepolisian, ketentaraan, BUMN dan lainnya masing-masing berkulit sama, berasal dari daerah yang sama, beragama atau berpartai sama.

Khususnya bagi perusahaan, pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat harus segera dilaksanakan demi pemerataan yang adil bagi semua perusahaan. Perusahaan dengan investasi luar negeri seharusnya dipersyaratkan, misalnya mengenai pejabat dan karyawan, tidak harus memakai orang dari negara luar. Harus ada ketentuan, berapa persen dari luar dan berapa dari dalam negeri, misalnya berbanding 1 dan 10 di tingkat manajemen dan 1 dan 20-30 di tingkat pelaksana, sehingga dari dalam lebih dominan.

Dipertimbangkan juga bahwa uang yang dijaminkan dan diperoleh sebagai hasil usaha disimpan di bank nasional atau swasta nasional, tidak di bank luar negeri, dan tidak boleh menggaji karyawan langsung dari luar negeri. Produk yang dihasilkan sebuah pabrik atau perusahaan eksploitasi juga tidak boleh dijual langsung oleh perusahaan tersebut. Seharusnya dijual oleh perusahaan lain yang bukan anak perusahaan atau perusahaan keluarga dan kerabat.

Jangan produk mie dipasarkan oleh perusahaan pembuat, demikian juga produk mobil, motor, elektronik, pakaian, sepatu, makanan, minuman, emas, tembaga, uranium, timah, minyak dan gas harus oleh perusahaan pemasaran khusus. Sebagai contoh, PT Freeport jangan menjual sendiri kekayaan negara yang dieksplorasi di Papua, PT Pertamina pun tidak menjual sendiri minyak dan gas yang dieksplorasi di berbagai lokasi. Harus dengan perusahaan lain. Pasokan barang ke tengah masyarakat tidak layak didistribusikan langsung oleh pabrik pembuatnya atau perusahaan yang juga cabang perusahaan pabrik.

Harus juga diawasi diskriminasi dan monopoli kepegawaian, jika Menterinya dari salah satu partai maka seluruh pejabat eselon I, II, III bahkan pegawai pada departemennya dimutasikan, diganti dengan mengangkat orang dari partai tanpa memandang relevansi dan keahlian serta asset mahal yang dikeluarkan pemerintah dalam study pegawai di dalam dan di luar negeri. Jangan sampai terjadi menteri menempatkan orang partai di departemennya untuk memutasikan pegawai dari luar departemen untuk menjabat di departemen yang dikuasai, sehingga banyak pegawai asli yang sudah waktunya dinaikkan jabatannya, harus menunggu atau tidak memiliki harapan sama sekali karena kehadiran orang luar di departemennya. Hal seperti ini juga memungkinkan tenaga-tenaga ahli kita yang tugas belajar di luar negeri dengan berbagai alasan tidak mau kembali ke Indonesia takut tidak ada kepastian kedudukan, penghargaan dan pekerjaan. Sedang bila bekerja di negara lain dihargai sebagai tenaga ahli. Tenaga ahli yang keluar dari setiap departemen diinventariser, diberdayakan kembali, tanpa diskriminasi.

Istilah “proporsional” juga sifatnya sangat diskriminatif. Dalam pendidikan dan pelatihan atau dalam rekrut pegawai atau tentara, selagi ada istilah proporsional yang membedakan peserta dari agama dan suku atau kulit maka terjadilah diskriminasi, dan harus dihapuskan. Penilaian subyektif jangan terjadi dalam seleksi dalam rekrutmen pegawai sipil atau militer. Perlu dibentuk LSM untuk Discrimination Watch atau Monopolistic Watch dan semacamnya (dari buku: 63 Ayat Dasar Seandainya Saya Jadi Presiden, 2008)


Responses

  1. artikel yang bagus


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: