Posted by: todung | 25 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 5)

Ayat 5.

PRESIDEN BERKANTOR DI SEMUA ISTANA NEGARA DAN ISTANA PRESIDEN

Saya pindah kantor ke semua Istana Negara atau Istana Presiden secara bergantian untuk lebih dekat mengemudikan pemerintahan di wilayah seperti Istana Tampak Siring, Digul, Lombok, Makassar mengendalikan Indonesia Bagian Timur dan Tengah; Istana Bogor, Cipanas dan Jakarta mengendalikan Indonesia Bagian Barat dan Pusat, Danau Toba, Bukit Tinggi untuk Sumatera Bagian Utara dan Barat.

Di istana-istana tersebut saya bersama Gubernur dan Bupati serta pejabat teknis akan mengelola pengembangan wilayah tanpa kecuali, dan sangat mungkin untuk incognito ke wilayah yang perlu saya kunjungi secara khusus atau secara terencana, menomorsatukan pengembangan dan pembangunan yang langsung dinikmati oleh rakyat di desa, kelurahan, kecamatan dan kabupaten/kota dari pada kunjungan-kunjungan bersifat seremonial ke luar negeri. Saya tidak akan pernah takut didemo, saya harus dekat kepada masyarakat, bila ada keperluan, tidak cukup hanya memanggil Gubernurnya saja, tidak akan merasa lebih efektif bila seorang presiden, beristana di Jakarta saja selama jadi presiden;

Terutama penggunaan istana di Indonesia Bagian Timur sudah harus dipersiapkan sedemikian rupa karena perhatian saya yang sangat dominan terutama setelah tahun kedua pemerintahan saya. Bagi daerah yang tidak memiliki istana maka kantor Gubernur akan saya gunakan sebagai tempat kerja presiden. Bila perlu dibangun istana atau perkantoran baru mengendalikan wilayah tertentu;

Istana Tampak Siring di Bali begitu indah, harmoni alam dan variasi ornamen halaman yang luas serta ornamen dalam gedung demikian klassik dan indah. Kesan setiap orang yang menginjaknya: Inilah Indonesiaku! sungguh menakjubkan. Mengapa tidak terdengar Presiden Indonesia menerima tamu di Istana ini, mengapa harus di Hotel Nusa Dua dan di hotel yang lain . Hampir setiap tahun ada event besar kenegaraan di Bali namun tidak menggunakan fasilitas terhormat di Istana Tampak Siring Bali, apakah ini bukan seperti sebuah pelecehan status kenegaraan. Satu kebanggaan besar bila Istana Bogor dapat digunakan menetapkan sejarah global perdaganagan dunia melalui APEC (Asia Pacifict Economic Council) dimana hadir Kepala Negara se Asia Pasifik termasuk Presiden AS.

Banyak keuntungan bila Presiden memanfaatkan Istana Negara dan Istana Presiden yang ada seperti di Yogyakarta, Boven Digul, Lombok, Banda, Makassar, Istana Bogor, Cipanas, Danau Toba, Bukit Tinggi selain mengendalikan langsung kenegaraan secara dekat dengan masyarakat, ini yang terutama, dan untuk itu bila perlu dibangun istana atau perkantoran baru di berbagai tempat; juga berarti menghargai nilai sejarah perjuangan bahkan penderitaan pemimpin negara pada masa lalu.

Manfaat lain, bila presiden singgah di Istana itu pasti ada perbaikan di sana sini, dari perbaikan status kehidupan penjaga, kelengkapan fasilitas semua terpantau. Istana dikunjungi khalayak ramai untuk menerima informasi aktual pembangunan bangsa dan negara. Di Istana itu ada wajah Presiden, ada wajah Indonesia yang bersatu dan berdaulat juga menjadi kebanggan bagi provinsi setempat bila presiden selalu hadir bersama rakyat membangun wilayahnya.

Ketinggalan Indonesia Bagian Timur yang diperkirakan 25 tahun dari Indonesia Bagian Barat dan Tengah, harus bisa ditebus dan dikejar dalam kurun waktu satu periode kepresidenan. Bila perlu, istana presiden dibangun lagi di Papua dan di Ambon sebagai pertanda babak baru pembangunan Indonesia Bagian Timur.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: