Posted by: todung | 26 August 2008

PERBAIKI PERUMAHAN RAKYAT DI DESA (AYAT 51)

PERBAIKI PERUMAHAN RAKYAT DI DESA

Perumahan rakyat yang bermartabat, sehat dan layak akan dibangun mengganti rumah lama yang reot, yang dibangun rakyat puluhan bahkan ratusan tahun dulu, rakyat memiliki rumah idaman;

Lebih penting membangun rumah untuk masyarakat dari pada untuk orang-orang besar di hunian estat dan apartemen. Lembaga Perumnas lebih diutamakan merenovasi dan merehab kembali rumah-rumah rakyat yang sudah tua.

Rumahku kekayaanku, jiwaku, tempat ibadahku. Riwayat perumahan di Indonesia pada umumnya berkelompok dalam satu perkampungan yang dipagari tembok tanah serta ditanami dengan bambu duri dihuni oleh satu kaum, satu suku, satu keturunan atau satu marga. Gerbang dipergunakan untuk pintu masuk disatukan dengan pintu keluar. Pola ini dimaksudkan demi keamanan kampung, karena pada saat itu sebelum terang agama belum datang, penuh dengan perkelahian bahkan perang antar kampung. Pola demikian juga masih tersisa hingga hingga sekarang walau pun simbol-simbol pengamanan sudah berkurang, simbol-simbol adat dan agama menjadi dominan. Pembangunan rumah di jaman modern agak berserak di mana saja terutama mengambil lokasi di pinggir jalan Terpencarnya pembangunan rumah jauh dari perkampungan juga sebagai akibat dari keturunan yang sudah berkeluarga semakin bertambah turun temurun.

Corak dan bentuk rumah pada awalnya sangat dipengaruhi asal muasal dari Tiongkok selatan atau Mongolia. Rombongan pertama tiba di Indonesia yang disebut sebagai Proto Melayu pada umumnya dengan rumah kerajaan yang pada ujung atap rumahnya runcing dengan berbagai arti sangat simbolik, seperti Rumah Batak, Rumah Minang dan Rumah Toraja dan corak kedua yang agak praktis berupa rumah kolong seperti Rumah Lampung, Rumah Ogan, Rumah Minahasa. Baik rumah kerajaan mau pun rumah kolong semuanya memiliki kolong yang dulunya berfungsi sebagai tempat peralatan pertanian seperti gerobak bahkan binatang peliharaan seperti kerbau, sapi, domba dan babi. Rombongan nenek moyang berikutnya yang disebut sebagai Dento Melayu memiliki rumah lebih praktis, demikian halnya dengan rombongan Melanesia lebih praktis dan sederhana.

Dalam perkembangan jaman rumah-rumah yang praktis lebih mudah diganti dengan bahan modern seperti penggunaan beton, sedang rumah-rumah adat ada yang berusia 100 hingga 150 tahun baru rubuh atau dirubuhkan. Sejak tahun 1960-an gedung-gedung bertingkat mulai dibangun dan hingga sekarang memadati perkotaan dengan berbagai corak dan pengaruh dari Eropah, Timur Tengah, Cina dan kreasi modern lainnya.

Seiring waktu dengan itu, rumah-rumah rakyat sulit berkembang, banyak yang kosong tidak ada penghuni karena rumahnya sudah terlalu dimakan usia, masyarakat mau membangun rumah cukup dengan rumah sangat-sangat sederhana (RSSS) dan terkesan kumuh, karena sulitnya perekonomian di pedesaan. Saatnya sekarang, negara ini harus membantu rakyat, memberi peluang untuk memperbaiki sendiri atau dengan bantuan pemerintah membangun rumah setiap keluarga yang indonesiawi dan manusiawi, yang memiliki standar minimal untuk kesehatan dan untuk pengembangan, sehingga pada akhirnya di Indonesia terdapat rumah rakyat yang menunjukkan derajat rakyat Indonesia yang seharusnya dan selayaknya.

Hadirnya pengelolaan perumnas dan rumah susun membantu pengadaan hunian bagi masyarakat merupakan pola baru yang tersebar hampir di seluruh kota besar, namun belum menangani rehabilitasi atau renovasi perumahan rakyat di pedesaan yang sudah tidak dihuni karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan. Demikian juga rehabilitasi perumahan rakyat yang berdiri tidak dalam kondisi yang baik, misalnya masih menggunakan lantai tanah yang kotor, dinding bambu yang reot, atap rumbia yang bocor, pemerintah perlu turun tangan dengan berbagai cara untuk memperbaiki demi kesehatan dan kesejahteraan rakyat itu sendiri, menjauhkan masyarakat dari pola kemiskinan dari sudut kepemilikan dan penggunaan rumah.

Rumah kumuh di perkotaan terutama di bantaran kali harus segera ditanggulangi, diperlukan manajemen penertiban yang manusiawi dari provinsi setempat, agar sejak dini tidak memberi kesempatan bagi rakyat tuna wisma untuk memanfaatkannya dan membangunnya menjadi perumahan, rumah kumuh. Strategi mutasi jual beli pertanahan di bantaran kali harus di perketat. Awalnya, pemulung dan tuna wisma membuat perlindungan rumah-rumahan dengan kertas karton, kemudian diganti dengan seng, papan, tripleks bekas, lalu ditinggikan, dimulai lagi memberi beton pada tiangnya, jadilah sebuah rumah. Lalu diikuti oleh yang lain. Kemudian dijual.

Perilaku seperti ini lepas dari pengamatan tata kota setempat dan menambah jumlah permasalahan rumah kumuh di perkotaan yang selalu membawa dilemma antara kasihan dan peraturan. Apalagi sudah menggunakannya selama 30 tahun, hak pemilikannya semakin kuat. Nanti bila sudah terjadi penertiban, pemerintah selalu disalahkan, orang ketiga pun seperti lembaga sosial masyarakat peduli rakyat dan lembaga bantuan hukum diikutsertakan berpihak pada rakyat pemilik rumah kumuh melawan pemerintah. Terjadilah demo, terjadi tawuran, mendapat sorotan media cetak dan elektronik di dalam dan di luar negeri, negara pun dianggap kacau.

Namun apa pun yang terjadi, penyesalan selalu datang kemudian, rakyat harus tetap dipimpin ke jalan yang benar, membawa mereka pada kesejahteraan yang memadai, mengurus mereka lebih dari pada mengurus orang luar negeri di negeri ini. Jangan pelayanan kepada orang luar dan orang kaya dalam hal perumahan lebih mudah dari pada melayani masyarakat sendiri. Bila harus dipindahkan, siapkan dana menempatkan mereka di tempat yang layak dan bermartabat.

Seandainya Saya Jadi Presiden


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: