Posted by: todung | 26 August 2008

SEANDAINYA SAJA JADI PRESIDEN RI (AYAT 33)

Ayat 33.

UTAMAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN

Saya kembalikan habitat kawasan kahtulistiwa dengan mengandalkan pertanian, perkebunan, kehewanan, perikanan, agri bisnis dan pembibitan serta kelautan termasuk industri kelautan, perikanan dan perdagangannya untuk kemaslahatan masyarakat;

Saya tidak mengkondisikan rakyat menjual tanahnya untuk lokasi industri, hotel dan pemukiman estat yang justru dihuni oleh bukan orang setempat, namun pendatang luar negeri, yang diindonesiakan dengan mudah, yang cenderung mengusir rakyat setempat pindah ke kota menjadi pemulung dan pengemis. Unit pengolahan produksi hasil pertanian dikembangkan hingga ke tingkat desa, baik unit pengolahan kecil ringan mau pun pengolahan besar berat, baik untuk pasar domestik mau pun manca negara.

Hal yang sangat hakiki ialah menjadi tidak jelas arah dan sasaran pembangunan Indonesia mau membangun masyarakat sendiri atau membangun masyarakat luar melalui produk-produk yang justru tidak dinikmati oleh masyarakat? Pemerintah berkutat menyelesaikan anggaran berimbang melalui APBN menyeimbangkan pemasukan dan belanja tanpa mengetahui siapa sebenarnya sasaran APBN itu sendiri. Misalnya, pemasukan dalam APBN dengan pemasukan pajak terbesar dari Free Port di Papua tanpa mempertimbangkan tergusurnya rakyat papua dari gunung emas. Atau pertanyaannya, adakah Freeport untuk rakyat Papua seutuhnya?

Pembangunan di Indonesia sekarang berlomba membangun real estat dan apartemen modern di perkotaan dan kota besar, pembangunannya untuk siapa? untuk rakyat? atau untuk rakyat pendatang baru? Cenderung menambah permasalahan berupa kepadatan penduduk, pergantian penghuni kota, lahan yang digunakan semakin merambah tanah pertanian.

Sebaiknya, sebagai negara khatulistiwa permasalahan pembangunan bukan terletak pada orientasi pembangunan estat dan orientasi pembangunan perkotaan, namun yang lebih utama ialah membangun potensi yang ada dan ternyata sangat kaya yaitu industri pertanian dan kelautan yang terkesan ditinggalkan masyarakat karena pemerintah mengarahkan salah orientasi pembangunannya. Masyarakat desa dan miskin menjadi masyarakat kelas dua bahkan kelas tiga di negeri ini, tidak merupakan tujuan langsung pembangunan nasional dan daerah, serta cenderung hanya untuk sasaran perolehan suara dalam menggolkan permainan politik para elite politik, rakyat ada dan hidup dengan jalan sendiri, hanya untuk politik.

Tanah pertanian rakyat dikuasai oleh tuan tanah, membiarkan tanah itu diam sebagai investasi tidak produktif, dijual kepada pengguna baru, beralih jadi hunian estat atau lahan pabrikan. Pemberian peluang seperti ini termasuk suatu pelecehan terhadap petani pemilik tanah, ketidakadilan berbangsa, dan pemerintah sangat berpihak kepada pemilik uang karena tidak membuat aturan untuk melindungi hak rakyat. Lebih baik pemerintah mengusahakan pembangunan mekanisasi pertanian, terkonsentrasi di pedesaan di seluruh Indonesia, untuk produksi berbagai jenis produk pertanian yang bisa didistribusikan ke seluruh Indonesia bahkan luar negeri.

Jeruk Indonesia ternyata laku di Singapur hingga ke Arab Saudi, Durian Indonesia ternyata digandrungi di Hongkong dan Jepang, Appel hijau Malang disenangi di India dan Filipina. Mengapa jadi terbalik justru produk jeruk dan appel dari Cina dan Israel yang justru dimasukkan disini? Bagaimana dengan produk perkebunan rakyat? Hasil perkebunan Indonesia terkenal dengan aroma yang khas seperti kopi, Teh, Cokelat, Kopra dan Cengkeh, karet dan lainnya, semuanya melibatkan rakyat.

Seandainya Saya Jadi Presiden


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: