Posted by: todung | 26 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 34)

JADIKAN INDUSTRI PERKEBUNAN MENJADI SUMBER DEVISA NON MIGAS YANG BESAR.

Perkebunan saya tata dengan manajemen yang benar, mengapa Belanda dulu dan kita hingga tahun 80-an serta perusahaan luar yang ada di Indonesia sekarang bisa mengelola perkebunan dengan baik. Dulu pengekspor hasil perkebunan malah menjadi pengimpor

Harus ditinjau kembali privatisasi dari perkebunan negara menjadi badan usaha perseroan, mengapa setelah main PT-PTan malah jadi rusak dan korupsi merajalela, pasti ada yang salah di sana.

Jiwa pengusahaan Perkebunan oleh Belanda yang dilanjutkan manajemennya oleh Indonesia setelah merdeka hingga tahun 90- an masih termasuk mengagumkan dan menjadi idola setiap orang untuk menjadi karyawan bergengsi di perusahaan negara (PN) Perkebunan terutama di Sumatera dan Jawa itu. Selama bentuk usaha masih menggunaan PN maka jiwa kebesaran dan kejayaan perkebunan di seluruh Indonesia masih tetap utuh. Namun setelah diganti menjadi Perusahaan Terbatas (bukan perusahaan negara lagi) maka apa yang terlihat dan terjadi dewasa ini?

Mungkin pada awalnya permasalahan yang timbul selama dalam manajemen PN ialah kecilnya pendapatan negara sebagai akibat dari mis management dan mungkin karena terjadinya korupsi juga. Jika permasalahannya mis-management maka jalan keluarnya bukan merubah PN jadi PT, solusinya ialah mengganti manajemen yang lebih professional dan lebih ahli. Mungkin juga masalahnya mekanisme kerja yang buruk, jika itu masalahnya maka yang harus diperbaiki ialah sistemnya, bukan malah merubah PN jadi PT. Siapa yang menjamin bahwa dalam PT justru tidak terjadi korupsi, justru sistem manajemen semakin buruk atau pendapatan negara semakin menajam turun?

Sepertinya para pejabatnya telah menetapkan bahwa PT tersebut bukan milik negara seutuhnya lagi tetapi sudah menjadi milik badan direktur dan pemilik saham, yang mengutamakan kepentingan mereka lebih dulu baru sisa-sisanya untuk negara. Sebaiknya, status badan usaha ini harus dikembalikan utuh menjadi milik negara dimana pejabatnya dibayar oleh negara seperti pemberian gaji biasa dengan bonus-bonus tertentu. Demikian juga bagi perusahaan-perusahaan negara (BUMN/BUMD) lainnya. Lebih rusak apabila BUMN dan BUMD masuk dalam penguasaan partai, hancurlah. Hasil usaha perusahaan akan masuk dulu dalam memenuhi kepentingan partai secara legal atau illegal baru sisanya untuk negara. Janganlah perusahaan negara (BUMN/BUMD) dikelola oleh partai.

Perkebunan swasta dalam negeri juga harus didukung oleh pemerintah karena dapat mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja untuk memiliki penghasilan yang tetap dan layak dan mengurangi pengangguran. Selain itu akan menjadi pesaing murni utama secara positif bagi perkebunan negara untuk tampil lebih maju dari pada perkebunan swasta, dan yang penting lagi keduanya saling mengisi dalam memenuhi kebutuhan negara dalam kebijakan pengelolaan produk yang sejenis.

Perkebunan swasta luar negeri harus diawasi secara ketat, harus diketahui dengan pasti sejauh mana perusahaan tersebut memberi keuntungan kepada negara, dalam kurun waktu berapa lama keadaan menguntungkan negara, apakah masih dilanjutkan bila jangka waktu perjanjian selesai atau sudah harus dikelola oleh negara atau swasta dalam negeri? dan sebaliknya kerugian apa yang ditimbulkan oleh perusahaan dalam kepentingan negara, dan sejauh mana penyimpangan yang terjadi jika mengikuti surat perjanjian (MoA dan MoU) yang disepakati?

Sebaiknya, pengelolaan perkebunan tidak perlu diberikan kepada swasta luar negeri, di Negara ini cukup ahli yang bisa bekerja sama mengelolanya. Pengusaha nasional dan petinggi bangsa sendiri harus lebih percaya diri melebihi pengusaha luar. Indonesia masih lebih baik meniru manajemen mereka dari pada mereka yang harus mengelola perusahaan luar di negara ini.

Kecenderungan perusahaan negara dan swasta menanam pohon sejenis seperti kelapa sawit hampir di seluruh pulau di Indonesia perlu dipertanyakan karena sangat berpengaruh pada politik perdagangan produksi minyak kelapa sawit selanjutnya. Persediaan produk yang banyak akan selalu menurunkan harga di pasar, merupakan sebuah rumus ekonomi yang sangat umum. Turunnya harga akan mempengaruhi biaya tetap overhead dan biaya oprasional variabel, bisa mengancam satu demi satu perusahaan beralih usaha atau sekaligus gulung tikar.

Diversifikasi jenis tanaman perkebunan dapat lebih bervariasi dengan tanaman teh, karet, kopi, pala, lada, kelapa/kopra, cengkeh, jeruk, kulit manis, kemenyaan, kapur barus juga durian dan jenis lainnya. Hasil produksi teh Indonesia terkenal kualitasnya hingga ke Eropah. Produksi karet Indonesia merupakan karet kualitas baik di dunia sehingga banyak perusahaan ban beroperasi di sini menggunakan bahan karet Indonesia. Produk kopi, misalnya kopi sidikalang yang khas justru digunakan dalam bar dan restoran utama di Eropah dan Amerika juga dalam perjalanan pesawat terbang internasional.

Terutama kemenyaan Indonesia sudah terkenal sejak abad 1 Masehi hingga ke Timur Tengah dan kapur barus terkenal sejak pedagang China mendarat di Barus Tapanuli Selatan abad ke-5 Masehi. Pengalaman negara kita mengelola perkebunan besar bukan hal yang baru lagi, jaman emas, jaman kejayaan perkebunan dulu harus kita gali kembali lagi dan kita upayakan merupakan penyumbang hasil non migas terbesar dalam menunjang anggaran negara Indonesia selanjutnya.

Seandainya Saya Jadi Presiden


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: