Posted by: todung | 26 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 36)

LAYANI PENGURUSAN SERTIFIKASI TANAH RAKYAT

DENGAN MUDAH DAN GRATIS

Sertifikasi tanah hingga di pedesaan difasilitasi dan dilindungi oleh pemerintah terutama kepemilikan tanah oleh rakyat yang berasal dari tanah warisan, tanah adat dan wakaf ;

Tanah rakyat tidak dibiarkan dikuasai oleh konglomerat berduit dan berinvestasi dengan dalih pembangunan. Sertifikasi tanah rakyat kecil akan dilakukan serentak dan berkelanjutan secara gratis, sehingga selalu ada kejelasan batas tanah rakyat perseorangan, tanah milik kelompok dan milik pemerintah.

Sebagai negara bekas jajahan Belanda, beberapa aspek administrasi negara terutama tentang pertanahan tidak ditangani dengan baik seperti penggunaan dan sertifikasi tanah. Peraturan dibuat seperti landbow, landreform, hanya direncanakan untuk kepentingan penjajah, bukan untuk kepentingan rakyat, bahkan sering dijadikan alat yang sangat strategis untuk memecah belah rakyat, sehingga bicara tanah menjadi peluang untuk berperkara.

Untuk mengurus sertifikat tanah diperlukan biaya yang sangat besar, sehingga rakyat membiarkan saja dan merasa tidak perlu mengurusnya. Rakyat merasa bahwa tidak ada yang berhak menguasai tanahnya, tanah warisan orang tuanya, tanah adat mereka masih lebih berkuasa dari pada surat-surat tanah, pada hal sertifikat tanah lebih berkuasa dari pada hak tanpa surat-surat resmi. Rakyat memiliki surat pembayaran pajak, ternyata surat pajak bukanlah surat resmi yang menunjukkan bahwa tanah itu milik si pembayar pajak. Pemerintah seperti merasa tidak perlu menghimbau masyarakat agar mengurus sertifikat tanah masing-masing, pemerintah hanya menunggu siapa mau mengurus akan dilayani, dan yang tidak mengurus biarkan saja, yang penting bayar pajak.

Banyak terjadi bahwa sertifikat tanah sudah resmi dimiliki orang lain pada hal pemiliknya sendiri yang selalu membayar pajak tanahnya tidak pernah merasa menjualnya atau memindahkan hak kepemilikannya kepada siapa pun, selidik dan selidik ternyata semua terjadi karena permainan antara orang berduit dengan penguasa. Masalah yang banyak terjadi di atas tanah ladang, kebun, bukit dan hutan luas yang diklaim sebagai milik bersama adat warisan nenek moyang yang juga tidak jelas batasnya dan tidak jelas surat-suratnya. Pemerintah mengklaim bahwa hutan tersebut sesuai dengan undang-undang merupakan milik pemerintah dan mengenakan undang-undang yang sama diberlakukan untuk hutan tersebut tanpa mengindahkan hak warisan adat. Pada kesempatan lain, pemerintah memberikan hak penguasan hutan (HPH) kepada pengusaha, lalu tanpa permisi langsung membabat hutan hak warisan adat yang termasuk dalam batas HPH yang dimilik, terjadilah juga perkara besar.

Dewasa ini banyak terjadi pergolakan antar sesama keluarga di kampung halaman. Soalnya, dengan ditetapkannya undang-undang tentang otonomi daerah, dimana pegawai negeri di perkotaan merasa disingkirkan oleh para pejabat karena tidak terpilih menduduki suatu jabatan yang sudah layak menjadi haknya hanya karena bukan putra daerah, sebuah fenomena yang sebenarya tidak perlu terjadi karena tidak ada dasar hukumnya, namun sudah menjadi kenyataan dimana-mana di jaman pemerintahan reformasi kebablasan ini, karena pura-pura tidak diperhatikan pemerintah. Bukan hanya itu, dalam hal pilkada pun hal itu terjadi, sehingga tidak mungkin lagi orang keturunan Jawa memimpin Kabupaten di Medan, dan orang keturunan Medan pun tidak mungkin memimpin kabupaten di Sulawesi seperti dulu.

Akibatnya sekarang banyak orang yang mudik, pulang kampung. Mereka bertani dan berkebun, menanam padi, jagung, kopi dan banyak lagi. Lama-lama anggota keluarga di kampung bergumam bahwa tanah yang dipakai itu bukan miliknya lagi, sudah dijual dulu kepada orang lain waktu orang tua masih hidup untuk biaya pengobatan orang tua selama di rumah sakit. Terjadilah kekecewaan. Tanah yang di sana juga sudah dijual kepada orang lain untuk biaya pilkades dua tahun lalu, banyak biaya yang keluar namun ternyata kalah, tidak terpilih, orang kota yang mudik kecewa lagi. Itulah orang kota, merasa warisan orang tuanya masih utuh pada hal sudah terjual untuk membiayai banyak keperluan. Orang kota pun tidak merasa perlu mengurus sertifikatnya jauh-jauh hari.

Program pemerintah akan membangun Lapangan terbang di satu tempat kurang lebih 40 km di luar kota di sebelah timur. Rakyat yang pintar langsung menyerbu kira-kira dimana bandara itu akan dibangun. Tidak lama kemudian sudah terjadi jual beli tanah di sekitar rencana lokasi dan serta merta dilengkapi dengan sertifikat tanah dan tanahnya pun dibangun dengan permanen. Tiba giliran pemerintah akan membebaskan tanah ternyata harganya sudah membubung tinggi untuk membiayai nilai tanah yang sudah bersertifikat yang sangat tinggi ditambah lagi membayar rumah yang sudah dalam kategori permanen. Itulah mahalnya tanah bersertifikat.

Program Prona, yaitu program sertifikasi tanah secara gratis yang dilakukan pemerintah, pelaksanaannya di lapangan kadang-kadang dilakukan tidak adil, lebih mengutamakan proses sertifikasi tanah para pejabat dan tuan-tuan tanah, kesempatan yang diberikan dan juga sosialisasi kepada masyarakat sangat terbatas. Mengapa sertifikasi tanah selanjutnya tidak gratis seperti mengurus KTP?

Kesadaran bersertifikat tanah memerlukan sosialisasi. Setelah semua tanah bersertifikat, persoalan pertanahan tidak akan meruak menjadi pemicu tindakan tawuran dan kekerasan. Apabila sertifikasi tanah berjalan secara kontinu maka rakyat kecil akan merasa aman atas asset pribadinya, akan lebih mensejahterakan hidupnya sebagai rakyat bangsa yang merdeka. akan merasa aman dengan haknya selama hidupnya dan sesudah meninggalkan dunia ini setelah diwariskan kepada keturunannya

Seandainya Saya Jadi Presiden


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: