Posted by: todung | 26 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 45)

JADIKAN PERTAMINA MENJADI PERUSAHAAN RAKSASA

Fungsi Pertamina saya kembalikan tetap utuh sebagai badan usaha milik negara kembali dari PT menjadi PN, saham pribadi saya kembalikan menjadi saham negara seutuhnya.

Manajemen saham, asset dan mekanisme kerja Pertamina harus diluruskan; Martabat Pertamina harus ditinggikan, namun tidak ada diskriminasi pegawai negeri di Pertamina dengan di lembaga lain di negara ini. Gaji dan bonus-bonus berlebihan bagi pegawainya termasuk keluarganya pun saya samakan dengan gaji dan bonus pegawai negeri biasa. Secara ketat tidak membolehkan ada ragam pipa mengeluarkan produk migas tanpa meteran. Menaikkan harga BBM harus lebih dulu menyesuaikan kemampuan konsumen;

Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) bertugas mengelola penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia. Siapa sebenarnya pemilik Pertamina dewasa ini? Apakah pribadi-pribadi yang diangkat oleh pemerintah, atau memang milik pemerintah benar? Mengapa tidak jaya lagi seperti dulu? Karena alasan kebobrokan manajemen badan usaha Perusahaan Negara (PN kemudian dirobah menjadi PT hingga sekarang namun terkesan menjadi perusahaan swasta berbasis negara dengan keuntungan berbagi-bagi kepada negara dan kepada pejabatnya secara luas dan kepada pegawainya. .

Pegawai pertamina terkesan menjadi pegawai nomor satu di negara ini karena menerima kesejahteraan yang khusus dan mewah dibandingkan dengan pegawai negeri. Gaji sangat besar, bonus-bonus keluarga (pendidikan anak, hari raya, cuti, sakit, tahunan, wisata, liburan dan lain-lain) begitu besar dan benar-benar ekstra sejahtera, kiranya PNS pun dapat disamakan.

Sejarahnya memang dimulai agak mirip swasta, yaitu sejak tahun 1885 dengan penemuan sumber minyak di Pangkalan Brandan Sumatera Utara; dua tahun kemudian tahun 1887 penemuan sumber minyak di Surabaya Jawa Timur; tahun berikutnya tahun 1888 disepakati Konsesi Sultan Kutai; tahun 1890 dibangun Kilang Wonokromo & Cepu); kemudian tahun 1892 dibangun Kilang Pangkalan Brandan Sumatera Utara yang pada tahun 1945 disebut dengan badan usaha PTMSU, demikian juga kilang Cepu menjadi PTM-Cepu; dan pada tahun 1950 PTMN Cepu menjadi PTMNRI Cepu, juga PTMN Sumut jadi PTMNRI Sumut; yang kemudian tahun 1954 berubah jadi TMSU; kemudian berubah menjadi PT Permina; Pada tahun 1961 PT Permina jadi PN Permina, PTMN jadi PN Permigan; assetnya pada tahun 1966 diberikan kepada PN Pertamin dan PN Permina;

Pada tahun 1968 PN Pertamin dan PN Permina merger menjadi PN Pertamina; dan pada tahun 2001 terbit UU Migas No 8 tahun 2001; sehingga pada tahun 2003 PN Pertamina menjadi PT Pertamina (persero); Modal disetor pada saat pendirian Rp 100 trilyun diperoleh dari seluruh kekayaan negara yang tertanam pada Pertamina meliputi Aktiva Pertamina beserta anak perusahaan termasik aktiva tetap yang telah dievaluasi Perusahaan Penilai Independen dikurangi dengan semua kewajiban (hutang ) Pertamina.

Kejayaan itu sebenarnya bisa dikembangkan atau paling tidak dipertahankan mengingat banyaknya anak perusahaan yang dibangun selama proses perkembangannya sejak menjadi PN Pertamina dan PT Pertamina memiliki kekayaan lain yang berada hampir di seluruh provinsi di Indonesia bahkan di luar negeri, baik perusahaan-perusahaan hulu, hilir dan umum.

Anak-anak perusahaan dan unit bisnis hulu dimaksud seperti: 1) PT Pertamina EP (PEP): perusahaan ekplorasi dan 2) PT Pertamina Geothermal energy (PGI). 3) PT Pertagas: usaha niaga, transportasi, distribusi, pemrosesan4) PT Pertamina Hulu Energi (PHE): anak perusaaan Pertamina di bidang portofolio 5) Drilling Services Hulu (DSH): 6) Exploration and production Technology Center.

Usaha Hilir Pertamina berupa Pengolahan, Pengadaan minyak Mentah dan intermedia bekerja sama dengan pihak yang berkeinginan terdaftar dalam DMUT (daftar Mitra Usaha Terpilih) dan Pemasaran dan Niaga, penanganan retail BBM, SPBU,Agen Premium dan Solar (APMS), Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Khusus, Non BBM, Gas, Petrokimia, Pelumas ; pengolahan, 6 kilang, kilang petrokimia, produk lpg, lng;

PT Pertamina masih memiliki anak perusahaan umum yang besar seperti: 1. PT Elnusa: 2. PT Patra Jasa 3. PT Pelita Air Service, 4. PT Pertamina Tongkang 5. PT Pertamina Bina Media Rumah Sakit Pertamina, 6. PT Patra Niaga, 7. PT Patra Dok Dumai, 8. Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), Singapura 9. PT Usayana 10. PT Pertamina Dana Ventura 11. PT Pertahulu semua ada 20 anak perusahaan. Yang menjadi pertanyaan apakah anak perusahaan hulu, hilir dan umum memiliki kejelasan kaitan manajemen dengan perusahaan induknya PT Pertamina Adakah duplikasi tugas antara perusahaan pendukung hulu, hilir dan umum dengan Perusahaan induk?

Masa jaya Pertamina secara nasional dan internasional telah dipanen. Pejabat Indonesia untuk beberapa waktu menjadi pemimpin, penentu kebijakan produksi minyak di seluruh dunia melalui OPEC (Organization of Petroleum for Economic Council). Pertamina harus lebih dikembangkan, untuk kemaslahatan rakyat juga memberdayakan potensi minyak dan gas di bumi Indonesia, sekaligus menetapkan batas asset minyak di bumi nusantara agar tidak diklaim negara tetangga dan atau tidak menjadi kejar-kejaran rekayasa politis negara luar.

Perusahaan PT Pertamina memiliki Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2007-2014: “World Class Diversified Upstream Energy Enterprise” dengan kebijakan strategis: Sustainable Growth Through Organic Expansion and Strategic Alliance. Apakah RJPP ini boleh menjawab kebesaran perusahaan pada waktu yang akan datang?

Seandainya Saya Jadi Presiden


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: