Posted by: todung | 26 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT 52)

Ayat 52.

KEMBANGKAN OLAH RAGA, WAJAH NEGARA,

DIMULAI DARI DESA

Bibit olah ragawan dari desa terseleksi secara kontinu di tingkat kecamatan, seterusnya di tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional menjadi wahana besar membawa nama bangsa menunjukkan kemajuan yang diraih oleh sesuatu bangsa di tingkat internasional. Usia muda yang terseleksi mulai di tingkat kabupaten kota disekolahkan secara khusus di dalam dan di luar negeri; Membangun bangsa ialah dengan membangun manusianya seimbang dengan membangun ekonomi. Ekonomi Indonesia terbangun hingga tahun 1998 namun manusianya kurang, sehingga kehancuranlah yang dialami hingga sekarang. Walau pun sebenarnya capacity building dalam membangun manusia sudah kita mulai sejak tahun 1962 dengan menjadi tuan rumah Asian Games IV dan memenangkan secara signifikan 9 medali emas, 12 medali perak dan 29 medali perunggu pada urutan ketiga setelah negara Jepang dan India.

Mari kita membangun manusia Indonesia melalui olah raga. Untuk itu tidak akan perlu membeli pemain olah raga dari luar bertanding di luar negeri dan di dalam negeri mengatasnamakan negara Indonesia; Sarana prasarana olah raga dikembangkan sejak dari desa hingga tingkat nasional; sangat penting bagi kita bendera dan lagu Indonesia Raya berkibar dan berkumandang di tingkat internasional.

Ikut-ikutan dengan industri persepakbolaan di Eropah yang tidak terlalu peduli dengan keturunan kebangsaan dan kenegaraan maka di Indonesia pun hal yang sama terjadi. Grup sepakbola yang pemainnya melayu Indonesia sawo matang bergabung dengan pemain sewa dari luar negeri yang beda tinggi, beda warna hitam dan putih, rasanya tidak pas membawakan nama Indonesia atau membawakan nama klub sepak bola provinsi. Apakah pengaruh globalisasi yang bakal tidak akan mengenal batas kebangsaan, keturunan dan kenegaraan sudah dimulai dalam olah raga sebagaimana dalam perdagangan bebas global? Apakah ini masih bisa dan perlu ditunda? Atau hal ini hanya sekedar untuk pelatihan atau seperti pada awalnya disebut sebagai ikut-ikutan yang sifatnya permanen tanpa batas waktu?

Potensi tenaga olahragawan masih tersimpan di desa namun belum digali. Tidak ada sarana untuk menggali dan untuk melatih, sarana olah raga mentereng berupa stadion olah raga dan gedung olah raga dan gelanggang olah raga, berada di pusat dan di Ibukota Provinsi, tidak berada pada konsentrasi hunian masyarakat. Lapangan olah raga alami atau yang dibangun pada jaman penjajahan di pedesaan atau di Perumnas berubah menjadi lahan produktif atau menjadi real estat, menjadi pusat perbelanjaan, menjadi tempat ibadah dan kegunaan lain. Tidak ada program olah raga di pedesaan, olah raga hanya milik orang kota, pada hal potensi dan bibit olahragawan berada di sana. Pengurus KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) tidak merasa berkewajiban memulai olah raga dari desa hingga ke kota. Cabang-cabang olah raga pun semua berada di kota. Porcanas, puncak peraihan kejuaraan olah raga untuk orang cacat, Pomnas, puncak prestasi Olah raga untuk mahasiswa, PON, puncak kejayaan bagi olahragawan nasional dengan berbagai cabang semuanya dimulai dan terpusat di perkotaan. Itu pun, cabang-cabang olah raga hanya dapat bergerak bila pendanaannya tercantum dalam anggaran belanja (APBD) setempat, bila tidak, maka organisasi sepakbola itu tidak mampu membiayai sendiri operasionalnya sepanjang tahun.

Memang, bagai buah simalakama, di pedesaan tidak ada biaya, di kota orang desa tidak akan terjamah. Untuk memilih dan melatih 11 pemain sepak bola terbaik beserta 11 cadangan dari 230 juta rakyat Indonesia demikian sulit, dan belum pernah terjangkau.

Aneh juga di negeri kita, pengurus cabang olah raga di Pusat dan di daerah bukanlah orang yang ahli dibidang olah raga itu sendiri, namun pada umumnya merupakan jabatan politis, dijabat oleh pejabat pemerintah atau pejabat yang kaya, dengan jabatan dan kekayaannya dapat membantu pengelolaan organisasi. Namun peluang korupsi juga sangat kental dengan sistem seperti itu.

Aneh lagi, sudah dihukum oleh negara di penjara namun masih dipakai oleh negara memimpin cabang olah raga, muka negara dimana? Biarkan cabang bulu tangkis dipimpin oleh Rudy Hartono, sepak bola dipimpin oleh Ajat Sudrajat, panahan oleh Sitanggang, renang oleh Nasution. Demikian juga seterusnya dalam kepemimpinan cabang olah raga di daerah seharusnya dipimpin oleh olahragawan yang ahli dan profesional pada bidangnya. Kiranya jangan terlalu mengandalkan sponsor kaya, atau pejabat kaya. Sponsorship berada di luar manajemen.

Olah raga tradisional pun lama kelamaan menjadi hilang, pengembangannya hanya dalam kertas dan sporadis. Silat, sepak takraw, gangsing, dan lain-lain makin lama semakin hilang, akibatnya di negara tetangga diakui sebagai olah raga tradisi milik sendiri. Masih banyak cabang olah raga yang belum digali dan banyak yang sudah digali namun tidak dimasyarakatkan apalagi dijual sebagai jenis atau cabang olah raga pada tingkat kejuaraan daerah, nasional bahkan internasional.

Pengakuan dan penghargaan kepada pahlawan olah raga kurang, tidak ada standar untuk itu, ada yang kemudian menderita dan mati tanpa karangan bunga, membeli kuburannya pun tidak ada, yang mengubur pun hanya tetangga. Pahlawan olah raga yang sudah menggelegarkan lagu Indonesia Raya di mata dunia setelah menyumbangkan kejuaraan utama dalam pertandingan akbar misalnya di olimpiade, piala dunia, asian games, kejuaraan regional dan kejuaraan lainnya namun sepulangnya tidak ada perhatian bagi mereka. Ke depan ini, pahlawan olah raga sebaiknya dihargai sama dengan pahlawan bangsa lainnya.

Seandainya Saya Jadi Presiden


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: