Posted by: todung | 26 August 2008

SEANDAINYA SAYA JADI PRESIDEN RI (AYAT23)

BERANTAS PRAKTEK JUDI, PEKERJA SEKS KOMERSIL,

NAPZA DAN HIV AIDS

Untuk itu saya tidak membolehkan negara ini menjadi sarang judi dan maksiat dan masuk dalam lingkaran peredaran narkoba internasional

Saya berantas praktek dan akar perjudian dan juga pekerja seks komersil serta pecandu narkoba dan korban HIV/Aids dan melokaliser kelompok-kelompok itu dan menunggu pertobatan dan penyembuhannya dengan melibatkan bantuan para ulama dan penyembuh; Bahan narkoba yang ditangkap aparat hukum dan polisi harus jelas jumlah dan kualitas akhirnya dan dapat dicheck setiap saat keadaannya, penyimpanan dan peruntukannya.

Di negara Malaysia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dibangun sebuah tempat katakanlah untuk lokalisasi para pemain judi kelas kakap dengan persyaratan ketat, setiap orang yang ingin masuk diperiksa, dimana yang boleh masuk ke sana hanyalah non melayu dan non muslim. Kebijakan seperti itu meyakinkan kaum beragama bahwa kita masih hidup dalam dunia yang penuh dosa dan disana tertantang meluruskan jalan kehidupan yang benar. Kedua, bahwa dengan lokalisasi tersebut tidak ada lagi lokasi lain yang merambat di tengah masyarakat. Demikian halnya apabila diadakan lokalisasi untuk pekerja seks komersil (katakanlah lonte atau wts, tidak perlu dieufenis dengan panggilan hormat).

Indonesia termasuk dalam segi tiga emas perdagangan narkoba dunia. Tidak ada orang yang mengakui gelar itu, namun sudah menjadi kenyataan bahwa Indonesia termasuk pengguna dan pengedar bahkan yang memproduk narkoba terbesar di Asia bahkan di dunia. Ini ulah siapa? Ulah anak pejabat? Ulah penghancur peradaban bahkan genocide generasi muda bangsa Indonesia?

Awalnya di kota anak muda menjadi pengguna dan pengedar. Anak orang kaya dijadikan pengguna dan anak orang miskin dijadikan pengedar sekaligus pengguna. Kehidupan di kampus menjadi sangat ditakutkan. Masihkah ada pengguna dan pengedar di sana?. Tak ayal lagi bahwa kehidupan di diskotik dan kafe besar, di sekolah, di kampus, di pasar, di kios kecil, di halte kendaraan umum bahkan di tempat ibadah?. Dari mana datangnya narkoba? mungkin saja dari orang-orang luar, mungkin saja bocoran dari hasil penangkapan di kantor polisi yang tidak segera dimusnahkan atau masih dijadikan barang bukti.

Hukuman bagi pengguna dan pengedar narkoba kurang adil, mereka yang menghancurkan kehidupan bangsa terutama generasi muda hanya dipenjara dalam waktu singkat. Mestinya, harus diganjar secara adil melalui hukuman mati atau minimal hukuman seumur hidup. Sudah jelas-jelas membuat pabrik narkoba terbesar di Asia bahkan di dunia orangnya masih dibolehkan hidup.

Tugas dan fungsi BNN (Badan Narkoba Nasional) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2002, yaitu mengkoordinasikan instansi pemerintah menyusun kebijakan dan pelaksanaannya di bidang ketersediaan, pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, prekusor dan zat adiktif lainnya, demikian juga BNP (Badan Narkoba Provinsi) di tingkat provinsi. Mengapa nama itu tidak diganti menjadi BANN atau BANP (Badan Anti Narkoba Nasional dan Badan Anti Narkoba Provinsi)? Badan Narkoba saja berarti sebuah badan pemelihara narkoba.

Masyarakat pun kurang mampu mengatakan bahwa yang meninggal yang sedang beristirahat di rumah duka adalah narkobawan/wati. Walau pun mereka sudah tahu almarhum(ah) meninggal karena kelebihan dosis masih saja dikatakan bahwa beliau selama hidupnya adalah anak baik. Sehingga tidak ada yang takut mati karena nerkoba.

Virus HIV/Aids (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency) merupakan akibat keidupan yang kotor, mempertemukan cairan tubuh melalui media melalui air liur sewaktu berciuman, cairan mani sewaktu bersenggama, cairan batuk dan pilek, jarum suntik bekas pakai. Kasus HIV/Aids di Papua tidak datang dari narkoba, disana orang kurang mengenal narkoba, disana tidak laku narkoba, yang laku adalah minuman keras, namun penderita HIV/Aids terbesar di Indonesia justru di Papua. Pulau Batam dan Jakarta menjadi penghasil korban HIV/Aids setelah Papua. Banyak penderita Aids yang kemudian menderita penyakit TB (tubercloses), dan menurut data dari WHO bahwa dari 539 ribu penderita Aids dengan TB setiap tahun, sebanyak 101 ribu meninggal. Bagi penderita yang masih hidup, ia sengsara, berdiri susah, tinggal merangkak pelan-pelan, daya immun tubuhnya semakin hilang.

Panti rehabilitasi dibangun oleh pemerintah dan swasta, ada yang mahal dan ada yang murah biayanya namun tidak banyak menolong penderita, bahkan apabila pasien panti keluar dengan perasaan dan dinyatakan sudah sembuh, dia selalu tertarik untuk bertemu teman-teman lama. Bila hal itu dilakukan, pada saat bertemu dan seperti berpesta pora menyambut kedatangannya kembali, ia tersanjung dan kembali diberikan narkoba dengan dosis over, dia mati. Bagi mereka kesembuhan merupakan pengkhianatan, penghianat harus dibunuh.

Penjara narkoba juga masih dipertanyakan, berapa yang keluar sembuh dari penjara khusus ini? berapa yang meninggal dan berapa yang masih menggunakan dan atau menjadi pengedar selama dalam penjara ini? Biar bagaimana program pemberantasan Narkoba dan HIV/Aids harus ditingkatkan secara efektif.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: