Posted by: todung | 27 December 2008

HAPPY NEW YEAR, Martambaru

              TAHUN BARUAN (MARTAMBARU – MARTAON BARU)

 

Merayakan Tahun Baru sama besarnya dengan Perayaan Natal di kampung. Bedanya ialah bahwa Perayaan Natal dihiasi dengan Pajojorhon (Liturgi, menyampaikan Firman Tuhan oleh semua orang dari anak kecil hingga lanjut usia) di atas altar, sehingga memberitakan Firman Tuhan tidak hanya milik Pendeta dan Penatua, tetapi juga milik semua orang. Lilin dan Pohon Terang menjadi symbol utama. Pada kesempatan ini orang berupaya memiliki pakaian baru. Pada perayaan Tahun Baru yang lebih dominan ialah penyediaaan aneka kue dan roti. Kue-kuean yang paling disukai ialah kembang layang, sasagun (tepung gongseng dengan bumbu kelapa dan gula merah atau putih), juga adanya orkes berjalan dari rumah ke rumah, setelah lonceng Gereja berkumandang selama satu jam dimulai pada jam 00.00. pada perayaan Natal tidak ada orang yang salam-salaman, sebaliknya pada perayaan Tahun baru justru merupakan ajang saling maaf memaafkan, sama dengan lebaran. Pada kesempatan ini setiap anak dan anggota keluaraga yang lebih rendah datang menghadap orang tua (orang yang lebih tua) untuk memohon maaf dan memohon petuah.

Kesamaannya bahwa sama-sama disemarakkan oleh kegiatan Marbinda (membagi daging dengan timbangan yang sama sesuai dengan paket yang dipesan). Baju baru yang dibeli pada Perayaan Natal, merupakan kesempatan kedua untuk dipakai sekaligus untuk dipertontonkan. Perayaan Natal dan Perayaan Tahun Baru merupakan satu paket hari besar bagi orang di kampung. Sebagian pola itu terbawa juga di tempat-tempat perantauan (parserakan).

Orkes berjalan, merupakan kegiatan bersilaturahmi, saling bersalam-salaman sambil ngamen. Dengan menggunakan musik sederhana seperti drum kecil (gardap), suling, harmonika, dan botol kosong sebagai pemalu irama mat, dibantu dengan vokal dari rombongan yang teriri dari 5 sd 10 orang. Konser dnegan orkes yang lebih komplit menggunakan alat musik yang lebih kompleks seperti trompet, biola, gitas, banjo, drum bass, clarinet, string bas dengan pemain sebanyak 20-30 orang termasuk vokalis. Kalau rombongan kecil berjalan dari rumah ke rumah, kelompok besar berjalan anatar kampung. Kelompok kecil cukup diberikan uang secara suka rela, kira-kira seharga dua batang rokok dari pemilik rumah. Sedang kelompok orkes besar dijamu oleh satu kampung, dan sumbangan yang diberikan pun merupakan kolekte seluruh penghuni kampung dan dijamu resmi oleh Kepala Desa. Mereka dapat memperoleh lebih besar uang apabila kebanyakan peserta orkes merupakan paman atau keluarga dekat dari Kepala Desa, mereka dapat memperoleh uang seharga satu ekor babi kecil (lomok-lomok)

Pemain konser dan orkes berjalan biasanya dilengkapi dengan make up sederhana, misalnya dengan bedak kampung dan gincu (lipstick) yang terbuat dari kertas crep warna merah yang dibasahi dengan air dan dioleskan ke bibir. Kertas crep pun hanya diperoleh dari sisa guntingan pada saat pelaksanaan dekorasi (pature gaba-gaba), sebelum perayaan Natal. Laki-laki perempuan dengan make up yang sama. Heboh rasanya.

 

 


Responses

  1. hehehe, …saya ketika baru sampai di Jakarta kebetulan akhir tahun, dan Natal. lalu ke Gereja dan orang bersalam salaman sambil mengucapkan “Selamat Natal”, saya kaget… “bah ai taon baru do masijalangan” ningku.
    Marbinda, ndang na tarhalupahon, di ganup huta, ganup dalan sude marlas niroha.
    Mar-orkes sipaimaon dohot sibegeon, terutama dihadakdanakon.
    Mangallang kue, aah sude mai Amanguda, ndang natarhalupahon. (hmmm…Natal dan Tahun Baru, yang bersahaja tetapi berbahagia dan terasa bedanya) hehehe…
    Mariam bambunya kemana Amanguda, songon naso mangkuling…hehehe…

    .
    Aku jadi ingat “Mariam Bambu”, waktu itu kita cari bambu yang paling besar (bulu godang), yang sedang dan yang kecil. Kita potong sepanjang satu setengah meter masing-masing. Kita bobok buku bambu dengan kayu tumbukan cabe (andalu) kecuali buku paling bawah. Di atas buku paling bawah kita lubangi sedikit tempat menyulut. Pada dasar bambu kita isi dan kita panasi minyak tanah. Kemudian digunakan juga karbit sebagai pengganti minyak tanah. Begitu panas, permainan pun dimulai dan siap-siap menunggu jam 00. Teman yang lain juga berbuat demikian. Seiring dengan lonceng Gereja berbunyi bertalu-talu menunjukkan hadirnya tahun baru, serentak api disulut di atas lubang kecil, suara Mariam Bambu menggelegar. Saling berbalasan antar kampung. Namun peragaannya hanya sebentar karena orang tua sudah menunggu di rumah untuk berdoa dan melakukan acara silaturahmi serta salam-salaman (sungkem). Acara di rumah selesai, dinasehati, salam-salaman, sungkem-sungkeman, acara perang Mariam Bambu di udara dimulai lagi hingga pagi menjelang pukul 06.00. Namun, sekarang, Mariam Bambu sudah dilarang pemerintah, takut ada yang nyaru. Nostalgia yang membahagiakan, Sungguh…… Selamat Tambaru ma Amang dohot di sude Keluarga. Horas. Love, Love n Love (Kel. TodungLToruan)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: