Posted by: todung | 27 December 2008

MERRY CHRISTMAS, Marbinda

 

 NATAL DI KAMPUNG, MARBINDA

 

Waktu itu, bulan Juni merupakan jadual tetap panen padi di kampong kami. Padi hasil panen dikumpulkan dan dibawa ke rumah dengan wadah karung yang terbuat dari daun (bayon). Karung khusus ini panjangnya sekiktas 1 (satu) meter dengan diameter 30 atau 40 cm, dapat berisi 1 kuintal padi basah. Hasil panen bisa mencapai 30 hingga 40 karung khusus, dibawa pulang ke rumah untuk dijemur. Namun saya perhatikan ada 3 atau 4 karung ditinggalkan begitu saja. Saya bertanya kepada orang tua: “untuk apa itu Pak, mengapa ditinggal begitu saja”? dia menjawab: “nanti Pak Tua Wilmar akan mengambilnya, untuk keperluan “marbinda” nanti bulan Desember.

Istilah “marbinda” tidak asing lagi bagi saya. Bila dengan kata marbinda, langsung terbayang betapa enaknya daging hasil marbinda dimakan. Kuahnya saja sudah mengesankan apalagi dagingnya yang digoreng dengan warna kunyit. Seekor kerbau atau sapi atau babi dipotong, semua bagian potongan binatang itu dari bagian terkecil seperti paru-paru, hati, kepala, rusuk, kaki, paha dan lainnya dibagi sama kepada peserta arisan marbinda. Masing-masing menerima sesuai dengan paket yang dipesan saat panen bulan Juni sebelumnya, ada yang kebagian 5 paket, ada juga hanya 1 paket.

Keahlian membagi rata merupakan kredit poin bagi seseorang sehingga dipercaya untuk melakukan marbinda setiap tahun, bahkan pekerjaan-pekerjaan sosial lain di kampung, mungkin juga akan dipilih menjadi kepala desa. Saat memotong hewan itu oleh petugas yang dkipercayakan, penonton tidak diperkenankan mendekat, mereka takut, saat pembagian daging nanti ada yang mencuri, juga bisa mengganggu keasyikan bekerja bagi petugas marbinda. Peserta atau yang diwakilkan seperti kami anak-anak demikian sabar menunggu.

Boleh dikatakan, sangat jarang kami makan daging. Hanya pada saat panen padi (gotilon) dan Natal Tahun Baru. Bila harus makan daging, harus menunggu kedatangan Paman, yaitu saudara laki-laki dari ibu, yang sangat ekstra dihormati oleh orangtua Bapa dan Mama. Itu pun cukup dengan memotong ayam. Saking hormatnya, semua potongan daging yang paling enak harus menjadi milik paman dan bibi, isterinya dan rombongannya. Kami anak-anak hanya kebagian kaki, ceker, usus, leher dan darah yang dibekukan. Pantaslah orang di kampung saya kemudian ada yang sangat doyan ceker, doyan makan usus. Doyan makan darah beku, warnanya coklat kemerah-merahan, bila dimakan demikian rapuh, enak.

Sehingga marbinda merupakan peristiwa besar dalam menyambut perayaan Natal dan Tahun Baru. Seluruh kampung melaksankan marbinda. Sekitar pukul 4.00 pagi hingga pukul 8.00, kegiatan pemotongan dilakukan. Selama 2 minggu sejak tanggal 24 Desember hingga minggu pertama bulan Januari berikutnya, kami memakan lauk daging. Hasil marbinda tidak hanya untuk kami makan. Sebagian diperuntukkan untuk dikirim ke rumah Paman (Tulang) sebagai kewajiban pada Hari Natal. Sebelum Tahun Baru Tulang membalasnya, dengan masakan khas arsik (semacam pepes) ikan mas. Kegiatan kecil tahunan di kampung seperti marbinda mampu memperkokoh iman khususnya percaya kepada Yesus yang lahir di Betlehem.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: